Monday, December 31, 2007

Selamat Tahun Baru 2008

Menuai Asa di Benang Jahit


Ujung tajam jarum jahit di tangan Samsul Arifin seperti menari-nari kecil ketika sebuah baju sedang dijahitnya. Jret..! Dalam sekejap baju itu pun jadi sesuai keinginan konsumen.

Dengan sabar dan teliti dirinya mulai memasukan benang ke dalam lubang jarum. Suara mesin jahit yang mulai bekerja, santer terdengar begitu cepat seolah memompa semangatnya untuk segera merampungkan jahitannya.

Mengais rejeki di Kota Surabaya dan bermodalkan mesin jahit bekas, bagi laki- laki 42 tahun ini bukanlah suatu hambatan. "Bagaimana lagi mampu saya hanya ini, terpenting dapat untuk menafkahi keluarga di Madura," ujar bapak dari tiga anak itu.

Samsul Arifin, adalah salah satu dari puluhan penjahit yang berjajar memadati jalan raya Patua Surabaya. Tumpukan kain, baju, jeans, jaket dan berbagai macam warna gulungan benang yang tertata rapi, seakan memberikan warna dalam hidup penjahit kecil seperti mereka.

Tempat yang mereka gunakan untuk usaha pun cukup sederhana. Meski, berbekal lapak dari kayu lapuk dan beratapkan terpal usang, ditambah penerangan sebuah lampu neon di atas meja jahit saat malam hari. Namun, kebanyakan konsumen tertarik dengan keramahan pelayanan para penjahit Patua.

Obrolan hangat dan canda tawa keluar dari mulut-mulut penjahit. Dengan inilah mereka akan merasa terhibur untuk mengusir kepenatan dan rasa lelah. Karena rata-rata penjahit Patua bekerja seharian dari pukul 08.00 sampai 21.00. "Karena melelahkan, maka kami isi dengan ngobrol dan bergurau," timpal seorang penjahit lainnya.

Mengenai kepastian sejak kapan usaha jahit di jalan Patua mulai menjamur masih belum ditemukan kepastiannya. Hanya saja, bagi Samsul dan seorang rekannya bernama Syafi'i termasuk paling dulu daripada penjahit lainnya. "Tahun 2002 adalah awal dari usaha jahit saya di jalan sini (Patua)," kenangnya sembari tersenyum.

Meski begitu, keberadaan puluhan penjahit di jalan Patua mampu memberi warna tersendiri bagi masyarakat dan Kota Surabaya. Oleh sebab itu walaupun penghasilan yang diraih tak seberapa besar, mereka memilih untuk bertahan di tengah maraknya persaingan bisnis jahit yang tempatnya lebih memadai. (Naskah/Foto: Shiska Pradibka)

Di Balik Lensa


Bule bergaya di atas tanggul lumpur lapindo...(M.Ridlo'i)


Meski yang lain rumah korban lumpur lapindo dijual dan memperoleh ganti rugi, beda dengan yang satu ini... (M.Ridlo'i)


Juru parkir memantau. Aman bozzz...(Wahyu Triatmojo)


Silut bendera Indonesia...(M.Ridlo'i)

Siapa Paling Cepat?


Siapa yang paling cepat? dua orang petani selesai pulang dari tanah garapan mereka di desa Gudo Jombang.... (M. Ridlo'i)

Saturday, December 29, 2007

Denting Irama Ludruk




Penonton sedang menikmati Panggung pagelaran ludruk Irama Budaya di Pulo Wonokromo Surabaya....


K
eramaian malam Kota Wonokromo Surabaya, seakan terpecah dengan lengking suara sinden medendangkan tembang-tembang jawa. Sejenak kita pun akan terperangah mencari dari mana asal suara-suara itu.

Memang sedang berlangsung pementasan ludruk, aneh di tengah kokohnya gedung-gedung supermall dan perkantoran di Surabaya masih terngiang di telinga kita dentingan irama ludruk.

Ludruk merupakan kesenian tradisional yang masih tersisa di Kota Surabaya. Khususnya dalam bertahan di tengah derasnya perkembangan budaya-budaya modern. Beruntung masih ada beberapa pihak berkenan mempertahankan dan melestarikannya. Seperti yang dilakukan Kelompok Ludruk Irama Budaya Jl. Pulo Wonokromo Surabaya, yang dipimpin oleh Pak Sunardi. Kelompok ini kerap menggelar pertunjukan ludruk pada setiap satu minggu sekali. (Naskah/Foto:Wahyu Triatmojo)







Sebelum tampil di atas panggung para pemain ludruk dirias terlebih dahulu...


Merias diri di ruang yang hanya ada satu cahaya saja...



Salah seorang penonton ludruk sedang menunggu pertunjukan dimulai dan hingga ketiduran...

Thursday, December 27, 2007

Pernik Jelang Ganti Tahun

Setiap pergantian tahun banyak orang yang memanfaatkannya sebagai momen menambah penghasilan. Seperti halnya di beberapa sudut Kota Surabaya dapat dijumpai pedagang-pedagang pernak-pernik untuk memeriahkan perayaan malam tahun baru. Nur Syam(50), Pedagang terompet dan topi kerucut di daerah Karang Menjangan ini misalnya. Dia sengaja memilih berjualan terompet dan topi kerucut sebagai penghasilan tambahan. (Teks/foto:Dhimas P)


Diklat Jurnalistik FMIPA Unair

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Format Universitas Airlangga Surabaya mengadakan pendidikan dan pelatihan jurnalistik tingkat dasar se-Surabaya pada 22-23 Desember lalu.

Dalam pelatihan yang diikuti peserta dari kalangan SMA dan Mahasiswa di Surabaya itu berhasil menarik 75 peserta. Mengenai jumlah ini pihak panitia dirasakan oleh Ketua Pelaksana Sudarmono ada penurunan. “Sesuai kesepakatan panitia semestinya menarget ada 100 orang, namun sayangnya kita hanya mampu meraih 75 orang saja dan ditahun 2006 kita berhasil meraih 150 peserta,” ujarnya.

Diklat yang diadakan di kampus FMIPA UNAIR ini, diisi oleh pemateri dari wartawan Jawa Pos. Yaitu Nur Wahid, Solahuddin , Yuyung Abdi, dan Eko Pamuji. Dari keempat materi yang diberikan, yaitu teknik penulisan berita, teknik reportase, dasar-dasar fotografi jurnalistik, dan teknik penyuntingan berita. ( Silviyanti Nur Indah Sari )

Wednesday, December 26, 2007

Pulang di Tengah Pertandingan




Para Bonek (suporter Persebaya) membubarkan diri walaupun pertandingan belum selesai. mereka kecewa atas permainan Persebaya yang loyo.tampak foto atas dan bawah Para suporter melepas spanduk yang dipasang di pinggir lapangan (PEE).



Agustine Kettor, di tempel ketat pemain bertahan Perekabpas. Persebaya harus mengakui 1-0 atas tim tamu Persekabpas dalam lanjutan Liga Indonesia di stadion Gelora 10 nopember Tambkasari Surabaya, Rabu (26/12) kemarin. (PEE)

Perkelahian di Peluit Pertandingan Usai




Pertandingan Persebaya melawan Persekabpas di stadion 10 Nopember Surabaya kemarin, di warnai dengan perkelahian antara striker Persebaya juan vallejos dengan penjaga gawang Persekabpas Roni Tri Prasnanto (Atas). Kiper Persekabpas Roni Tri Prasnanto ditenangkan oleh assisten Pelatih Elario Rojas (Bawah). (PEE)

Tuesday, December 25, 2007

Stikosa-AWS Kebobolan


Menjelang pergantian tahun Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Masa-Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS) kebobolan. Dua buah piranti hardware computer di Perpeustakaan kampus tersebut raib. Peristiwa kriminal ini terjadi pada Sabtu (22/12) pagi lalu, mengenai kemana arah dugaan pelaku masih dalam proses penyelidikan pihak kampus dengan dibantu kepolisian setempat. (Dhimas Prasaja)

Sunday, December 23, 2007

Jurnalis Terjun Tanpa Parasut

Oleh: M. Ridloi

Membaca buku Nalar Jurnalistik karya Redi Panuju tertarik dengan apa yang yakininya bahwa wartawan (jurnalis) ada dua macam. Mungkin ini kiranya dapat dijadikan renungan di balik jubah jurnalis yang telah melekat pada diri kita.

Yaitu, pertama adalah wartawan yang piawai mencari dan menulis berita. Kedua adalah wartawan yang di samping mempunyai keterampilan teknis jurnalistik, juga mempunyai nalar (wawasan) terhadap keterampilan yang dimilikinya.

Memang sepintas dua kategori tersebut agak mirip, tetapi jika dikaji secara mendalam banyak perbedaan yang mencolok. Jenis pertama tidak akan dapat menjawab pertanyaan dengan baik, misalnya, Mengapa Anda Melakukan itu? Mengapa tidak yang lain? Dia tidak dapat menghadirkan argumentasi yang logis, apalagi ilmiah. Dengan kata lain si jurnalis akan menjawab, Tak tahu ya, sudah dari sananya begitu!

Oleh karenanya, para praktisi jurnalistik kerap mengeluh merasa jenuh dengan profesinya. Bagi mereka yang tahu obatnya, sesungguhnya tidaklah sulit. Kejenuhan karena aspek motorik dapat diluruhkan dengan sentuhan wawasan yang menarik. Wawasan yang berisi nalar sehat akan mengembalikan fungsi otak sebagai komandan yang baik bagi kerja otot-otot motorik. Nalar sehat memberikan semangat baru, bahkan cara pandang baru yang dapat mengilhami pola mekanistik (kerja jurnalistik).

Memahami kerja jurnalistik tidaklah cukup dengan menggunakan konsep-konsep jurnalistik, tetapi juga membutuhkan pendekatan-pendekatan lain di luar ilmu komunikasi. Membicarakan jurnalistik berarti membicarakan media. Membicarakan media berarti mengait persoalan manajemen, audiensi, dan juga isi media.

Jika dijelajahi lebih dalam mengenai manajemen misalnya, berarti juga membahas kebijakan redaksional, leadership dalam organisasi media, dan fungsi manajemen lainnya (perencanaan, implementasi, evaluasi, dan pembiayaan).

Jadi dalam buku tersebut, sama sekali tidak berpretensi untuk menyimpulkan bahwa nalar jurnalistik itu lebih penting daripada teknik jurnalistik. Dan antara nalar dengan teknik sama-sama pentingnya, saling mengisi dalam fungsi jurnalistik.

Banyak kita jumpai lulusan pendidikan jurnalistik (pada disiplin ilmu komunikasi) ternyata tidak selalu siap kerja ketika turun lapangan. Mereka masih sangat perlu menyinkronkan antar dunia nalar yang dimiliki dengan dunia empirik yang begitu asing dirasakan. Namun, yang paling parah apabila seorang jurnalis tidak memiliki keduanya. Bekerjanya saja dengan cara coba-coba dan spekulatif (trial and error). Sehingga yang terjadi adalah jurnalis terjun tanpa parasut alias benjut di lapangan.

Friday, December 21, 2007

Estetika Gereja Graha Bethany


PROSES PEMBANGUNAN GEREJA GRAHA BETHANY DI NGINDEN SBY.jpg (FOTO: FROM BETHANY)

PEMBUKAAN PEMBANGUNAN TAHUN 1987 OLEH WALIKOTA SBY PURNOMO KASIDI.jpg (FOTO: FROM BETHANY)


Dari luar gedung gereja terlihat di mata kita perpaduan nilai-nilai kemewahan dan keindahan bangunannya.

Selain menyuguhkan kemewahan, Gereja yang terletak di Nginden Intan Timur Surabaya juga mencerminkan unsur keagungan. Sebuah keagungan yang hanya dipersembahkan kepada Tuhan Yesus.

“Ya, di sini setiap jemaat senantiasa dihadapkan pada keagungan Tuhan dan ini semua kami persembahkan pada-Nya,” papar pendiri Gereja Graha Bethany Abraham Alex Tanuseputra seperti pada buku yang ditulisnya sendiri.

Gereja ini dibangun tahun 1987 dan sudah mengalami beberapa kali renovasi. Namun, dari rentetan renovasi itu, bentuk asli bangunan pertama gereja masih tetap terjaga. Hal tersebut dapat dilihat dari kubah cungkup yang berada di atas gedung. Dan cungkup tersebut yang menandakan keberadaan gereja terlihat dari kejauhan, sekitar jarak 3 kilometer dari jalan raya.

Aswin Tanuseputra, yang juga putra dari Abraham Alex Tanuseputra yang sengaja menjadi salah satu panitia pelaksanaan pembangunan Gereja Graha Bethany. Mulai awal pemilihan konstruksi materiil, dia sengaja memilih bahan yang berkwalitas nomor satu. Sehingga tujuan daripada pembangunan jelas adalah hanya memberi yang terbaik bagi Tuhan.

Alhasil, kini Gereja Graha Bethany Surabaya yang mulanya memperoleh 7 jemaat bertambah pesat menjadi 70 ribu jemaat. Pembangunannya pun telah selesai pada tahap berkapasitas 20 ribu jiwa untuk satu kali kebaktian.

Melayani Tuhan
Beridirinya Gereja Graha Bethany boleh dibilang sebagai wujud kesetiaan umat kristiani yang setia dalam melayani dan mengagungkan Tuhan Yesus.

Berangkat dari hal tersebutlah dan terlebih dengan adanya pengalaman pribadi Abraham Alex Tanuseputra tentang cerita kakeknya. Bahwa pada suatu hari Sang Kakek mengumpulkan anak-anaknya, dan mereka menyangka di hari itulah akan mendapatkan sejumlah uang sebagai hasil dari berbagai usaha perumahan.

Ternyata bukan, apa yang dikatakan Sang Kakek kala itu sesuatu yang bertolak belakang dengan dugaan mereka. ”Hasil usaha perumahan NV indra Giri ini akan dipersembahkan untuk gereja,” papar Abraham menirukan kata kakeknya.

Pada tahun 1949 Kakek Abraham yang bernama Tan Tong Oen bersama pendeta Ishak Lew dari hasil penjualan pabrik tinta miliknya, membangun gereja di Sawahan Surabaya, yaitu GPPS. Sayangnya, pada tahun 1955 sebelum bangunan gereja itu jadi Sang Kakek meninggal dunia.

Suatu niatan tulus yang harus diwujudkan demi pelayanan sang umat kepada Tuhan. Dari awal kisah itulah, Abraham dibantu beberapa kerabat berniat membangun Gereja Bethany di beberapa wilayah, termasuk di Kota Surabaya (kini berdiri Gereja Graha Bethany Nginden Surabaya).

Buah keseriusan dalam menanggapi kasih Tuhan itulah yang membuat Gereja Graha Bethany kini berdiri kokoh. Bahkan didalam gereja tersebut sekarang telah dipenuhi berbagai fasilitas penunjang bagi para jemaat. Seperti halnya hotel, perkantoran media Bethany, restauran dan masih banyak fasilitas lainnya yang bikin kita serasa nyaman untuk datang dan beribadah di sana. (M. Ridlo’i)

Negara SMS


Short Mesagges Service (SMS)
itulah bagian dari fasilitas yang ada di selular kita. Dengan jempol tangan segala unek-unek dapat tersampaikan.

Dengan ber-SMS ucapan selamat atas prestasi dapat langsung terkirim, ucapan belasungkawa juga sama, ungkapan rasa cinta jugapun sama, atau ungkapan-ungkapan lainnya juga sama.

Seseorang yang berungkapan di satu wilayah juga dapat dilakukan dengan SMS. Apalagi yang berada antar wilayah. Selain itu, dengan sms kita tak dibutuhkan tenaga besar, dan juga biaya yang cukup murah daripada sekedar telepon Say Hello...

Bahkan, perlahan seiring kemajuan teknologi SMS kerapkali difungsikan wadah jaring aspirasi saat kampanye pemilihan umum senat, ketua organisasi, kepala desa, bupati, gubernur, dan presiden.

Pesan melalui SMS dapat dijalankan dengan waktu yang cukup singkat. Kapan saja dan di mana saja. SMS tak hanya berguna mengungkapkan rasa senang. Amarah pun bisa, diluapkan lewat SMS. Mungkin hanya butuh beberap detik pesan melalui SMS dapat tersampaikan pada orang yang kita tuju.

Dengan sepeser rupiah yang cukup ringan rasa emosi kita pada orang lain dapat tersampaikan. Dan kita pun tidak berpikiran betapa besarnya akibat dari kata-kata atau pesan-pesan kita tulis dengan jempolan tangan kita itu.

Melihat begitu mudahnya SMS mampu mengendalikan orang lain, maka dengan penuh ungkapan merdeka. ”Dari benak saya suatu saat berkeinginan terbentuknya negara SMS”. Andaikata negara SMS tidak dapat berdiri, organisasi SMS pun dapat didirikan.

Sehingga berdirinya negara SMS tiada yang mampu menandingi apalagi untuk sekedar menaklukkan, tiada yang mampu membalas jika tidak punya pulsa, tiada yang mampu membalas karena dengan SMS gelap kita tidak akan tahu orangnya padahal orangnya ada di depan mata. SMS...SMS...SMS...Budaya apa??? Benda apa SMS itu??? Masihkah kita sebagai kaum kerdil yang tidak mau menampakkan dirinya, dan hanya mampu mengejek orang lain dari belakang alias lewat SMS. (M. Ridlo'i)

Cahaya Bersinar di Tengah Kota



Usia bangunannya memang sudah puluhan tahun. Namun, keeksotikan arsitektur bergaya Eropa mengajak sekejap mata menengadah untuk menikmati gedung penuh sejarah itu.

Gedung bernama Balai Pemuda ini memiliki karakteristik arsitektur gaya Eropa yang dimodifikasi dengan kondisi lingkungan Indonesia yang beriklim tropis basah. Maka bentuk bangunannya nampak unik sebagai ungkapan perpaduan dua gaya arsitektur. Perpaduan gaya Eropa terlihat dari bentuk kubah dengan gaya Gotik, dan pada gewel yang menunjukkan ciri bangunan khas Belanda.

Untuk penggunaan gedung Balai Pemuda yang dulunya diklaim sebagai gedung berkumpulnya para pemuda pada jaman perang pun beragam. Selain untuk melestarikan kebudayaan, kini tempat yang banyak memunculkan seniman-seniman handal juga menjadi pusat pertunjukan seni di Surabaya. ”Ini memang fungsi balai pemuda,” tegas Kepala UPTD Balai Pemuda Nirwana Yuda.

Sejarah Balai Pemuda
Pada masa penjajahan bisa dikatakan adalah waktu pembangunan besar-besaran di Indonesia. Selain merugikan dan memakan korban banyak juga menjadi sebuah keuntungan tersendiri bagi bangsa Indonesia.

Tidak dipungkiri lagi dengan dijajahnya bangsa Indonesia kita telah membangun hampir seluruh infrastruktur. Pada awal kemerdekaan bangunan-bangunan ini menjadi kantor-kantor pemerintah.

Begitu juga Balai Pemuda Surabaya pada masa itu. Pada tahun 1907 awal dibangunnya, gedung ini berfungsi sebagai tempat rekreasi warga Belanda. Gedung ini digunakan sebagai tempat dansa dan juga tempat bolling. Dan saat itu gedung ini benar-benar harus bersih dari orang-orang pribumi.

Alhasil, pada tahun 1945 gedung ini dikuasai arek-arek Surabaya yang tergabung dalam Pemuda Republik Indonesia (PRI). Organisasi pemuda ini terkenal ekstrim dalam bertindak pada setiap kegiatannya. Banyak orang Indonesia ataupun Belanda yang dituduh mata-mata diinterogasi di tempat ini.

Dalam perjalanannya gedung ini berhasil dikuasai oleh penguasa militer setelah sempat direbut kembali oleh Belanda. Kemudian diserahkan kepada ketua dewan pemerintah daerah kota praja Surabaya. Pada masa itu gedung ini lebih dikenal dengan nama aslinya De Simpangsche Societeit. Hingga pada peralihannya gedung ini berganti nama menjadi Balai Pemuda. Tepatnya pada tahun 1957 setelah serah terima dari komandan KKMB kepada ketua dewan pemerintahan daerah kota praja Surabaya.

Gedung di jalan pemuda no. 15 Surabya ini kini berfungsi sebagai Pusat Pagelaran Kesenian Surabaya (PPKS). Termasuk pusat pembinaan seniman atau seniwati muda yang tergabung dalam Bengkel Muda Surabaya (BMS) dan Akademi Seni Rupa Surabaya (AKSERA). Mengenai pihak penglolahan gedung bersejarah itu di bawah naungan Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Surabaya sesuai dengan Perda no.14 tahun 2005.

Melihat letaknya di tengah Kota Surabaya, gedung Balai Pemuda sepatutnya menjadi perhatian bersama terutama untuk menjaga nilai-nilai sejarahnya. Sehingga sampai nanti gedung tersebut selalu bersinar ibarat cahaya yang menerangi tengah kota. (Naskah: Guntur IP / Foto: Dhimas P)

Serba Cepat dari Warung Kalkulator



Mampir di warung saat perut lapar dengan layanan lamban pasti bikin hati tambah sebal. Warung Kalkulator mampu menjawabnya dengan layanan yang sangat cepat .

Begitulah masyarakat sekitar Taman Kota Bungkul Surabaya menyebutnya. Lantaran layanan yang serba cepat ibarat kalkulator, warung bernama sedap malam milik Ajib Rosidi layak disebut sebagai warung kalkulator.

Kecepatan penyajian makanan dan minuman menjadi daya pikat bagi pembeli. Tiga kursi panjang dan 15 kursi plastik penuh terisi orang yang makan dengan nikmat. Kendati demikian, masih banyak pelanggan rela menunggu sampai dapat tempat duduk.

Dari sekian banyak pembeli terlihat berasal dari berbagai kalangan. Hal ini terbukti dari kendaraan yang terparkir di sana. Mulai dari sepeda onthel sampai mobil mewah berjajar di depan warung tersebut. Bahkan pembeli tak kehilangan selera makan meski debu jalanan kadang terbang ketika ada kendaraan lewat. "Soto di sini rasanya sama dengan soto lainnya, cuma pelayanannya saja yang beda," ujar salah seorang pembeli Sugeng Santoso.

Serba cepat lainnya dapat dilihat saat pembeli melakukan pembayaran, pelayan warung melakukan proses penghitungan biaya dengan sangat cepat meskipun tanpa menggunakan kalkulator sebagai alat hitung.

Bagi pembeli yang sering makan soto daging sapi dan rawon di warung tersebut tidak akan merasa kaget terhadap bentuk pelayanannya. Namun, bagi yang baru pertama kali datang akan sedikit dibuat bingung. Lantaran pengunjung belum duduk sudah diserang dengan berbagai pertanyaan yang sangat cepat.

Mengenai harga bagi yang ingin singgah jangan khawatir. Harga kedua menu cukup murah, kita hanya perlu mengeluarkan uang sebesar Rp. 7 ribu untuk satu porsi. Bagi yang ingin menambah lauk dimeja makan tersaji paru goreng, perkedel daging, tempe goreng, telur asin, babat goreng. Untuk lauk tambahan harganya cukup memadai, yakni Rp. 2 ribu untuk satu potong.

Perhari Capai Rp. 15 Juta

Asap mengepul dari cerutu yang dihisap dalam-dalam Ajib Rosidi. Itulah kebiasaan setiap sore yang dilakukan pemilik warung kalkulator. Di saat warungnya ramai pembeli dia tampak begitu santai.

”Kalau sore begini saya hanya datang untuk mengawasi kerja pegawai saja dan sambil bersantai,” kata pria kelahiran 13 Maret 1949.

Mengenai awal mula berjualan soto dan rawon bapak dua anak ini menceritakan jika usaha yang dirintis bersama istrinya dimulai pada tahun 1975. ”Tepatnya di jalan Raya Darmo 139 dan kini tempat itu telah dibangun Bank Negara Indonesia (BNI),” imbuhnya.
Diakhir tahun 1988, Pria berkacamata itu lagi-lagi menuai masalah. Warungnya jarang ada peminat, dan mengharuskan dia pindah ke Jalan Ki Manuk pada tahun 1989. Dan di tempat itulah selama 13 tahun warungnya mampu bertahan, meski di pinggiran jalan raya.

Setelah itu, pada tahun 2002 Ajib beserta istri memutuskan untuk berpindah tempat jualan. Setelah dengan berbagai pertimbangan akhirnya Ajib memilih untuk berjualan di kawasan kuliner Taman Bungkul hingga sekarang. Rupanya benang merah yang dicari selama ini ada di tempat ini. “Empat kali saya berpindah tempat, ternyata oplahnya lebih cocok di Taman Bungkul,” ungkap suami Sarifah sembari tersenyum.

Tentu saja bukan hanya karena faktor pelayanannya saja yang terasa luar biasa sehingga diminati banyak pembeli. Ajib mempunyai resep jitu. seperti tekstur daging sapi yang lembut, berminyak, dan meminimalis kadar lemak dalam daging.
"Sebelum memasak, terlebih dahulu daging saya rendam dengan racikan bumbu rahasia, Nah, agar lebih mantap sengaja dipilih daging sapi yang berserat bagus,” paparnya.

Resep dan bentuk pelayanan yang sengaja disiapkan secara matang ternyata berbuah hasil. Dari berjualan mulai pukul 10 pagi hingga tengah malam dengan dibantu 19 pelayan, pria tamatan Sekolah Dasar (SD) itu mengaku mampu meraup omset maksimal Rp. 15 juta.

Tak ayal, Ajib pun dapat menyekolahkan dua anaknya hingga meraih gelar Sarjana Teknik Perhubungan Industri dan Perbankan. Bahkan nasib mujur tidak berhenti disitu, kehidupannya semakin hari semakin mujur. “Syukur, meskipun cuma jualan soto dan rawon saya telah punya tiga rumah,” pungkas ajib bangga. (Naskah:Andrian Saputri / Foto:Dhimas P)

Wednesday, December 19, 2007

Papua Berpijak di Tengah Belantara Metropolitan












Tugu yang melambangkan Tifa, berdiri megah di depan Asrama Papua.

Tatkala melintasi Jalan Kalasan Surabaya kita akan melihat salah satu rumah yang memiliki ciri bangunan lain dari pada yang lain.

Pagar bermotif Tifa serta anak panah nampak dari rumah itu. Dibeberapa sudut serta kaca jendela terukir ornamen burung cendrawasih serta gambaran suku Asmat dan Biak. Mulai halaman depan rumah tersebut adalah merupakan ukiran ciri khas dari Papua.

Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III, itulah tulisan yang terpampang di gerbang pintu masuk tempat para pemuda Papua tinggal di Kota Surabaya. Dua buah pilar berbentuk tiruan Tifa (alat musik tradisional Papua, red) menyangga tulisan tersebut.

Kamasan sendiri adalah istilah dari Papua yang sebenarnya tempat untuk menempa seperti untuk membuat senjata (Alas-Pande Besi, red). ”Jadi di sini (Surabaya) adalah tempat di mana kita belajar serta untuk berkumpul para putra-putra Papua,” ujar Yesko, selaku kordinator Asrama tersebut.

Oleh karenanya, rata-rata penghuni asrama Papua adalah mahasiswa perguruan tinggi swasta di Surabaya. Mengenai tujuan dibangun asrama yang ada sejak tahun 1977, Yesko menjelaskan bahwa agar kita sebagai pemuda Papua dapat berbaur dengan masyarakat Surabaya, yang notabene orang jawa.

Dengan pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III Diresmikan tertanggal 1 februari 2007, itulah tulisan yang tertera pada batu prasasti di tembok sebelah kanan sebelum memasuki ruang tamu. ”Asrama ini baru saja diresmikan oleh Gubernur Papua Barnabas Suebu sendiri,” kata Yesko sambil menunjuk prasasti.

Menurutnya bangunan asrama pernah mengalami renovasi sekitar tahun 2004. Secara keseluruhan asrama mampu menampung 80 orang. ”tetapi kini hanya berjumlah 15 orang saja,” ujar salah seorang penghuni lain Yanuar.

Rumah bergaya adat Honai (gaya arsitek khas Wamena) berlantai dua ini terdiri dari dua lantai. Sisi kanan terdapat 9 kamar saling berhadapan dan sisi kiri ada 4 kamar. Ruang utamanya adalah ruang tamu yang berukuran 22 x 9 meter. Juga terdapat aula yang mampu menampung sekitar 200 kepala dengan luas sekitar 25 x 60 meter. Sedangkan pada dinding aula terdapat lukisan bergambar Nabi Isa bersama 12 muridnya, dalam kisah Perjamuan Kudus.

Naskah/Foto: Dhimas Prasaja

Anomali Kepentingan di Balik Kasus Tanah Akpar

Tanah Akademi Pariwisata Prapanca (Akpar) akhirnya berpindah tangan dari Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur (YPWJT) ke PT. Hermon dengan status alih kelolah.

Seperti diberitakan MiyabiTimes Selasa (4/12) lalu pengurus YPWJT melakukan penjualan tanah seluas 600 meter persegi kepada PT.Hermon. Dan tanah tersebut laku dengan harga sebesar Rp. 3,6 milliar.

Bukannya gegabah, upaya YPWJT yang diketuai Dimam Abror tentu hanyalah berdasarkan belajar dari pengalaman yang sudah pernah terjadi. Seperti yang diutarakannya beberapa waktu lalu dikantor Harian Surya bahwa kita pernah mengalami kasus sebagian tanah Sekolah Menengah Ilmu Pariwisata (SMIP) seluasa 300 meter persegi hilang begitu saja. “Bahkan kini menjadi milik resmi penduduk Medokan Semampir-AWS dengan bukti kepemilikan sertifikat tanah,” imbuhnya.

Selain berangkat dari pengalaman pahit. YPWJT punya niatan membebaskan tanah Akpar yang kegiatannya sudah ditutup sejak tahun 2004 dari penyitaan pemilik sebelumnya, yakni Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Sedangkan status tanah tersebut adalah tanah surat hijau (fasilitas lembaga pendidikan).

Alhasil, berkat upaya keras yayasan tanah itupun tidak jadi jatuh ke tangan Pemkot Surabaya. ”Kala itu Pak Basofi Sudirman selaku pemilik YPWJ tidak rela dan berinisiatif mencari penanam modal agar tanah tersebut tidak jadi beralih fungsi,” jelas Pimpinan Redaksi Harian Surya tersebut.

Belum lagi pengeluaran dana YPWJT yang begitu besar untuk menaungi Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi-Almamater Wartawan Surabaya Stikosa-AWS (Stikosa-AWS) membuat tanah sebelah barat kampus tersebut dialihkelolakan kepada PT. Hermon.

Sementara itu secara terpisah, Reno Halsamer dari PT. Hermon yang hadir pada penandatanganan Memorandum Of Understanding (Mou) pada 26 November di Stikosa-AWS membenarkan apabila tanah tersebut kini telah dialihkelolahkan pada PT. Hermon.

Sebagai humas Gereja Bethany Reno yang tergabung dalam PT. Hermon sangat terketuk hati untuk menyelamatkan tanah Akpar dari sitaan Pemkot. ”Karena upaya ini adalah yang terbaik bagi kelangsungan pendidikan, maka kami sepakat untuk mengelolah tanah tersebut,” tambahnya.

Mekanisme pembayaran dilakukan secara bertahap. Yaitu pada tahun 2005 pembayaran tahap pertama PT.Hermon memberikan uang muka sebesar Rp. 250 juta, dan pada tahap kedua pembayaran langsung berupa giro sebasar Rp. 1,75 milliar. Sedangkan sisanya kedua belah pihak sepakat akan diangsur Rp. 500 juta perbulan, dan pembayarannya berlangsung hingga saat ini.

Lantas bagaimana pengalokasian dari dana tersebut, khususnya dalam hal ini wewenang pihak yayasan. “Pada pembayaran pertama, dana senilai Rp. 150 juta kami alokasikan kepada karyawan untuk pesangon selama mengabdi,” ujar Abror.

Naskah :M. Roby Ridwan/M.Ridlo'i / Foto: Dhimas Prasaja
Komentar-komentar

Zainal Arifin Emka (Ketua Stikosa-AWS): ”Dalam hal pengalihkelolahan tanah Akpar alangkah baiknya bila sikap kita adalah mengawasi tujuan mulia penjualan tanah tersebut”

Reno Halsamer (PT. Hermon): ”Pengalih kelolahan tanah Akpar adalah upaya yang terbaik bagi kelangsungan pendidikan”

Abror: Dana Itu untuk Pembangunan Stikosa-AWS










Pengalihkelolahan tanah Akademi Pariwisata Prapanca (Akpar) dari Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur (YPWJT) ke PT. Hermon memberi warna-warni dari seluruh kalangan.

Bahkan, pihak Yayasan yang diketuai Dimam Abror berani bertaruh pada tahun 2008 dana hasil alih kelolah, sebesar Rp. 3,6 miliar dapat dirupakan pada pembangunan fasilitas pendidikan di Stikosa-AWS.

Berikut petikan wawancara Acta Surya dengan Ketua YPWJT Dimam Abror pada beberapa waktu lalu di kantor Harian Surya.

Bagaimana anda beberapa tahun yang lalu menghadapi kasus tanah Akpar tersebut?
Tahun 2004 saya baru keluar dari Jawa Pos. Kasus ini muncul tahun 2005 saya ngomong sama beberapa alumni Stikosa-AWS, seperti Iman, Muhaji, Hendro, Becky. Yang kebetulan waktu itu ada demo menentang kampus mau dipindah ke Jambangan. Dan saya berani ngomong tidak ada penjualan dan pemindahan kampus. Karena waktu itu saya tidak tahu-menahu, begitu saya disebut-sebut bahkan dimuat di beberapa media jika saya yang mencari tanah ke Jambangan. Padahal waktu itu saya diajak orang, dan saya mengajak beberapa orang yayasan, seperti Pak Her, Diono, pak Aji.

Lantas, tentang pengalihkelolahan tanah Akpar berapa besar harga yang diterima pihak yayasan?
Kalau sesuai Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) Rp. 600 ribu dan Basofi minta utuh itu. Perkara nanti pihak ketiga mau menulis berapa terserah tapi kita minta utuh jadi kalau dikali 6 jumlahmya Rp. 3,6 milliar.
Lagipula proses inikan diperlukan dari pihak PT Hermon sendiri untuk biaya di notaris dan biaya pengurusan di pemkot. Jadi, itu semua dibiayai PT. hermon

Ada yang menyebut di PT. Hermon ada hubungan dengan Gereja Bethany?
Kalau saya menghubungkan PT. Hermon dengan Bethany saya tidak punya bukti. Akan tetapi salah satu dari mereka ada yang bekerja di Gereja Bethany.

Soal dana hasil pengalihkelolahan tanah Akpar pada PT. Hermon. Apakah mahasiswa dapat mengetahui secara dalam tentang transparansinya?
Yayasan siap diawasi pengunaanya secara transparan. Tapi kalau mahasiswa minta loporan keungan tidak bisa. Dan, yang menguak transparansi nanti ada pada tim auditor pada saat akhir masa jabatan saya memimpin Yayasan.

Dana sebesar Rp, 3,6 miliar sebenarna akan dialokasikan kemana?
Dana tersebut akan saya wujudkan pada pembangunan dan pembenahan kampus Stikosa-AWS. Dan ditarget 2008 sudah harus selesai.

M. Roby Ridwan/M.Ridlo'i

Frustasi Berbuah Prestasi

Di sela-sela kesibukannya, Edwin, mahasiswa semester 1 Stikosa AWS, menuturkan sepenggal pengalaman hidupnya. Terutama tentang pengalamannya dapat bangkit dari sebuah kegagalan.

Tahun 2005 merupakan tahun yang mengecewakan bagi mahasiswa yang memiliki nama lengkap Edwin Satryo Rizkiawan ini. Bagaimana tidak, ia dinyatakan tidak lulus dalam Ujian Akhir Nasional (UAN). Padahal nilai Bahasa Inggrisnya hanya kurang 0,1 saja.

Hasil inilah membuatnya memeras otak mengenai apa yang dilakukan selanjutnya. Ia pun mengikuti ujian paket c dan masuk jurusan komunikasi di Universitas Pembangunan Negara (UPN).

Selain itu, untuk meluapkan rasa kekecewaannya, ia mencoba menulis sebuah opini publik dan mengirimkannya ke sebuah media massa yang ada di Surabaya. Ia merasa sangat kecewa dengan sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia. Tak disangka, hasil karyanya yang berhasil dimuat ini, berangkat dari sebuah tulisan inilah menimbulkan awal ketertarikannya pada bidang jurnalistik.


Bahkan sesuai pandangannya pendidikan di Indonesia jangan dijadikan kelinci percobaan. “Kalau sistem pendidikan Indonesia jangan ikut-ikutan standar luar negeri yang banyak pro dan kontranya,” kritik Edwin yang lahir di Surabaya 6 Juni 1987 lalu.


Perjalanan Karir

Karirnya dimulai ketika ia menjadi seorang DJ (Disc Jokey, red) di Hotel JW Marriott, Surabaya. Saat itu ada orang yang menawarkannya untuk bekerja di RRI Pro 2 FM, dengan syarat ia harus memiliki sertifikat broadcasting.

Rasa ketertarikan mulai timbul. Kemudian dirinya mengikuti kursus broadcasting di Entertainment Training Centre (ETC) selama tiga bulan. Setelah itu, dewi fortuna berada dipundaknya dan ia pun berhasil diangkat menjadi seorang penyiar di RRI Pro 2. Ketika itu ia mengasuh program life style. Ia pun menikmati pekerjaan barunya ini.

Menurutnya kerja di sini enak, karena segmentasinya untuk semua kalangan. “Tetapi di stasiun radio tersebut saya hanya bertahan selama enam bulan, dan akhirnya pindah ke radio Prambors,” ucap laki-laki yang hobi renang ini.

Alasannya berpindah-pindah pekerjaan, karena ingin menambah pengalaman. Dan ini bukan hanya sekedar isapan jempol belaka. Mahasiswa berambut ikal ini benar-benar membuktikan ucapannya. Terbukti dengan kemampuannya di bidang broadcasting yang membawanya pada tahun 2006 melamar ke SBO TV. Dan hasilnya ia diterima sebagai wartawan lapangan. Inilah awal karirnya sebagai seorang jurnalis.Enam bulan bekerja di SBO TV ia pun pindah menjadi wartawan di ANTV.


Berbagai Kesibukan

Siang jadi anjing pelacak, malam jadi kelelawar. Itulah ungkapan Edwin tentang profesi yang digelutinya sekarang. Bagaimana tidak, di siang hari ia menjadi seorang wartawan yang memburu berita, lalu di malam hari ia menjadi seorang DJ.


Tapi hal ini tak membuatnya lantas melupakan bangku kuliah. Ia selalu mencoba menyempatkan waktu untuk belajar di pagi hari. “Biasanya dibangunkan kucingku”, imbuh mahasiswa yang pernah menjadi Best Danton se-Jatim ini sembari tertawa.


Baginya, kuliah dan pekerjaan itu sama-sama penting. Karena jadwal kerjanya, Pada Tahun 2007 ia memutuskan untuk untuk keluar dari UPN, kemudian pindah ke Stikosa-AWS. Alasannya pindah karena jadwal kuliah di UPN sangat padat, dan ia kewalahan mengatur waktunya dengan pekerjaan.


Sedangkan di Stikosa-AWS, menurutnya jadwal kuliahnya tidak terlalu padat. Setiap selesai kuliah, penyuka warna biru ini langsung beralih ke kantornya, kemudian liputan. Malam harinya ia pun menjadi DJ. Apalagi saat ini ia bukan hanya bekerja sebagai reporter, tapi juga sekaligus cameraman dan script writer di ANTV.

Naskah : Silviyanti Nur Indah Sari | Foto: Dhimas Prasaja

Sunday, December 16, 2007

Bentrok Aparat VS Bonek




Pertandingan derby jatim antara Deltras melawan Persebaya diwarnai bentrok antara aparat keamanan dengan pendukung Persebaya. Bentrok terjadi di luar dan di dalam stadion.
Tampak dua aorang aparat sedang mengejar seorang suporter (atas), seorang suporter Persebaya membantu temannya naik ke tribun di hadapan seorang polisi (bawah). (PEE)

Bonek Kuasai Tribun Utara




Ribuan setia pendukung Persebaya Bonekmania ikut hadir di gelora Delta Sidoarjo. Mereka memenuhi di tribun sektor utara. Tampak bonek mania yang masih ABG menyoraki wasit (atas). Para bonekmania sedang bernyayi-nyanyi mendukung timnya (bawah). (PEE)

Duel Sesama Saudara Berakhir Imbang




Delta Putra Sidoarjo (Deltras) bermain imbang 1-1 (0-0) saat menjamu Persebaya di Gelora Delta kemarin minggu, (16/12) sore. Hasil ini mengantarkan Deltras di puncak klasmen sementara wilayah timur.
Tampak Penyerang Deltras Hilton Moriera mengontrol bola dibayangi dua pemain Persebaya Mat Halil dan Bejo Sugiatoro (Foto atas). Gelandang serang Deltras Damien Pronetto mendapat tackling keras pemain Persebaya Marwal Iskandar (Foto bawah). (PEE)

Saturday, December 15, 2007

Sarimin Sentil Hukum Indonesia







Butet Kartaredjasa yang berperan sebagai Sarimin benar-benar tepati janji untuk tampil maksimal di hadapan arek-arek Suroboyo pada pementasan monolog di Gedung Cak Durasim Jum’at (15/12) malam.

Pementasan karya Agus Noor itu dimulai pukul 20.00. Dalam pertunjukan monolog itu mengangkat ide cerita Sarimin (nama seekor monyet). Yaitu tentang jungkir baliknya logika hukum di negeri ini. Dibangun lewat kisah penemuan Kartu Tanda Penduduk (KTP) di tengah jalan saat Sarimin sedang berkeliling menjajakan hiburan.

Bukan Butet jika dalam penampilan tidak menyentil kondisi negara kita. Kali ini memberikan kritikan terhadap hukum Indonesia yang benar bisa menjadi salah dan yang salah bisa menjadi benar. Bahkan dalam penampilan malam itu anak Bagong Kusudiharjo itu masih dengan gaya khas yang ceplas-ceplos.

Nuansa kritik kian tampak tatkala Sarimin menemukan KTP milik seorang hakim agung. Sebagai gambaran orang kecil, Sarimin akhirnya menjadi bulan-bulanan polisi dan juga pengacara yang mestinya berada dipihak yang benar. Sarimin dipaksa mengaku telah mencuri. Dan sialnya Sarimin dijatuhi hukuman penjara. ”Karena kau benar, maka kau salah,” begitulah ucap Butet dalam pementasannya.

Di akhir pertunjukan yang dihadiri Wakil Walikota Surabaya Arif Affandi, Chairman Grup Jawa Pos Dahlan Iskan, Pengamat ITS Kresnayana Yahya, Butet menyampaikan bahwa penampilannya kali ini merupakan bentuk penghargaan kepada Seniman Surabaya Bawong Nitiberi. ”Dialah yang menjadi sumber inspirasi dirinya dalam berseni,” ungkap Butet. (Naskah:M. Ridlo'i / Foto: PEE)

Oh...Oh...Oh...

Tulisan di bawah ini, bukanlah curhatan, atau gombalan yang tak lucu sama sekali, atau juga bukan puisi. Tetapi ini adalah realita kita.


Saat hati tak mampu bergetar
Mulut tak lagi suarakan mana yang hak dan yang bathil
Mata tak lagi memandang ilalang yang hijau
Hidung tak lagi menghirup wangi cemawan.

Apalagi yang ku lakukan?
Kecuali, hanya diam dan terpaku
Menahan ketidaberdayaan
Kini jelata telah mati.

Di sini………….
Pasrah aku melihatnya
Pasrah ku hanya Pada-Nya
Bukan pada tikus-tikus itu.

Kapankah kedamaian tiba?
Dapatkah kita merasakan duka tetanggaku?
Terfikirkah di otakmu,
bagaimana jika kita sebagai mereka?
Semua adalah pesan tetangga. (M. Ridlo'i)

Anda, Kita dan Warisan Mbah Kanjeng

Oleh: M. Ridlo’I

Dodotiro….Dodotiro……
kumitir bedah ing pinggir,
Dondomono……Jlumatono………
Surak ono, yo surak iyo

Sepenggal bait di atas termaktub dalam suluk berjudul Lir-Ilir, buah karya mbah Kanjeng Sunan Kalijaga.

Kala itu mbah kanjeng seakan punya firasat tersendiri tentang suatu badan, lembaga, organisasi atau negara yang akan digeluti oleh para penerusnya (anda dan kita). Oleh karena itu, beliau mencoba menuangkan firasatnya dalam sebuah lirik yang nantinya dapat diwariskan pada anda dan kita juga. Sebuah warisan yang tidak berupa harta, akan tetapi menjadi sebuah tongkat di saat kita melangkah dengan mata yang tertutup.

Bait ‘kumitir bedah ing pinggir, Dondomono……Jlumatono……’. Maksudnya adalah memerintahkan pada kita untuk dapat menjadi orang yang mampu menjahit (Dondomono) atau menyulami (Jlumatono) segala sobekan yang ada pada bagian pinggir pakaian kita.

Jadi, dari sini terasa jelas jika ada yang sobek (bedah) pada baju yang kerap kita pergunakan sehari-hari. Maka, kita harus mampu memiliki kedua sifat tersebut agar baju yang bedah nan compang-camping akhirnya dapat tetap terpakai.

Nah, untuk dapat ndondomi atau njlumati, patut terbesit sebuah kesepakatan antara tangan (yang biasa digunakan untuk menjahit atau menyulam) dengan jarum atau benang (sebagai alat yang digunakan untuk menyulam).

Cukup menggelitik telinga, menyayat hati dan memedaskan mata saat dilema anda dan kita tampak beda. Anda ngomong A sedang kita ngomong B, Anda membuat komitmen A sedang kita membuat komitmen B atau adakalanya malah membuat seekor semut terpingkal-pingkal saat anda beri contoh A tapi tingkah laku anda tak sesuai di hati kita.

Bocah angon… Bocah angon…
Penekno…blimbing kuwi…
Lunyu-Lunyu yo penek no
Kanggo mbasuh dodotiro

Matahari masih bersinar, tiba-tiba mendung kelabu bergelanyut di tempat sang kawan pencari ikan. Namun, hingga hujan deras mengguyur, sang kawan masih saja kebingunan tak seekor ikan pun diraih. Ia pun berkeluh, “Selama ini, aku tak diajari tentang menggunakan alat pancing atau jaring untuk memperoleh ikan tersebut”.

Andai, mbah Kanjeng Sunan Kalijaga masih hidup untuk menyaksikan tingkah laku anak cucunya. Betapa risaunya saat melihat bang Haji atau Kyai, yang kini berkampanye indahnya menggauli wanita non muhrim atau melihat mahasiswa yang tak pernah terlihat duduk manis di bangku sekolahnya, tapi ia berkata bak dewa dan akhirnya ia pun di puja atau merasa sok parlente dan sok mumpuni dibidangnya.

Ya, anda dan kita sedang dilanda kumitir bedah ing pinggir. Begitu pula anda dan kita ibarat ‘Bocah Angon’, yang Penekno Blimbing Kuwi (tugas dan kewajiban), meski Lunyu-Lunyu (dalam kondisi apapun) tetap penek no (junjung tinggi atau patuh). Tentunya semua hanya kanggo mbasuh dodotiro (makna fleksibel dan terkait almamater yang kita kenakan).

Paduan Unik Gulai Kacang Ijo

Dalam kuah yang gurih, manis dan pedas itu juga terasa dikudapan ada kacang ijo dan daging kambingnya. Ya, lantaran keduanya telah hancur saat direbus bersama kuah gulai.

Belum lagi aroma rempah-rempahan yang keluar dari kuah gulai makin mengundang perut yang lapar. Rempah-rempah tersebut sengaja jadi bumbu utama agar masakan terasa begitu sedap khas gulai.

Sajian kuliner gulai kacang ijo dapat dijumpai di Jalan Ampel Sawahan Gang 2 Kota Surabaya. Masakan khas Arab ini disajikan dengan lontong atau dapat dinikmati dengan roti maryam yang rasanya juga gurih.

Salah satunya warung Gulai Kacang Ijo milik keluarga Nur Azizah (27). Warung gulai kacang ijo yang berada di kawasan kaki lima Ampel ini dikelola turun temurun dari keluarga Nur Azizah. “Usaha ini adalah sejak mbah saya, mulai dari menjual pakai pikulan,” ucap Azizah yang memulai usaha semenjak 30 tahun silam.

Azizah menambahkan banyak pembeli yang percaya bahwa gulai kacang ijo dapat menambah stamina tubuh. “Menunya lumayan, habis makan gulai ini badan saya tambah segar dan fit lagi “, ungkap Nur Hanafi (57), yang mengaku berlangganan Gulai Kacang Ijo sejak tahun 1997.

Untuk harga jangan khawatir terlalu mahal. Satu porsi gulai kacang ijo di tempat tersebut terbilang cukup murah. Hanya dengan merogoh kocek Rp 3 ribu satu porsi gulai kacang ijo racikan Azizah sudah siap dimakan. Bila dengan roti maryam, maka tak perlu khawatir kita tinggal menambah Rp 1 ribu perpotong rotinya. (naskah/foto:Andrian Saputri)

Friday, December 14, 2007

Wajah Baru Vs Wajah Lama

Wajah baru Acta Surya (M. Ridlo'i) sedang duduk bersanding dengan wajah lama Acta Surya R. Amak Syariffudin di sebuah ruang Gereja Bethany Surabaya pada beberapa waktu lalu....

Sejarah yang Pudar, Makam yang Bersinar

Kusam. Makam Kakek Bodo terlihat tidak begitu terawat. Hal ini dapat dilihat dari gapura makam yang tak lagi indah.....
Air terjun yang ada di dalam obyek wisata Kakek Bodo, Tretes, Prigen, Pasuruan....

Makam Kakek Bodo terus bersinar, meskipun ceritanya mulai tergerus arus zaman.

Dinginnya hawa pegunungan menyambut. Gemericik air dan kicauan burung bersahutan mengiringi jejak kaki wisatawan wisata air terjun Kakek Bodo.

Obyek wisata yang terletak di Desa Tretes, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur ini terletak di ketinggian 850 meter di atas permukaan laut (dpl). Begitu alamiah keindahannya sangat terasa tatkala sampai di pintu masuk wisata tersebut.

Selain menyajikan berbagai obyek alam yang indah. Obyek wisata yang dikelola KBM-WBU (Kesatuan Bisnis Mandiri-Wisata, Benih dan usaha lainnya) ini juga terdapat Makam keramat Kakek Bodo yang terletak di tengah areal Wana Wisata Air Terjun Kakek Bodo.

Di dalam areal yang memuat fasilitas wisata air terjun, tempat berkemah, dan kolam renang ini, makam tersebut tampak tidak begitu menarik perhatian. Karena besar bangunannya yang tampak tidak jauh berbeda dari warung-warung biasa yang ada di sekitarnya. Hanya dua buah tugu gerbang yang membuatnya sedikit berbeda dari bangunan di sekitarnya. Makam itu sendiri berjarak 600 meter dari pintu masuk utama Wana Wisata Air Terjun Kakek Bodo.

Kondisi Makam
Makam Kakek Bodo terletak di dalam sebuah ruangan kecil yang tertutup. Kondisi makam terlihat begitu tak terawat. Dedaunan berserakan di mana-mana. Lumut-lumut menghiasi sudut-sudut ruangan. Belum lagi segulung tikar terhampar beracak-acakan.

”Kondisi makam yang tak terawat itu sejak pengurus kebersihannya meninggal dunia setahun lalu,” ungkap Karyono (59).

Ada satu hal yang menarik di belakang bangunan makam Kakek Bodo terletak sebuah gua kecil yang sudah tertutup oleh sebuah batu besar. Konon, gua ini dahulunya adalah tempat bertapa Kakek Bodo.

Sekelumit Kisah
Dari informasi yang diperoleh dari penduduk setempat, Kakek Bodo dahulunya adalah seorang pembantu rumah tangga keluarga Belanda. Dia seorang yang saleh dan jujur. Dia meninggalkan keluarga tersebut untuk mensucikan diri dari masalah keduniawian, dengan cara bertapa. Karena sikapnya ini, keluarga Belanda yang ditinggalkannya menyebutnya sebagai kakek yang bodoh ( Kakek Bodo ).

Namun berkat bertapanya, sang kakek memiliki kelebihan atau kesaktian. Kesaktian inipun digunakannya untuk membantu masyarakat setempat yang meminta pertolongan. Sang kakek pun meninggal di tempat bertapanya, yang terletak tidak jauh dari air terjun.

Menurut sang juru kunci, makam Kakek Bodo hingga kini dikeramatkan oleh penduduk setempat dan sekitarnya. ”Bahkan para pejabat dan pembesar juga pernah berziarah di sini,” ujarnya.

Sayangnya, hingga saat ini tidak banyak yang tahu tentang sejarah Kakek Bodo. Bahkan Karyono yang sudah tinggal di tempat ini sejak tahun 1979 silam, dan para penjaga loket lainnya tidak mengetahui sejarah makam Kakek Bodo. Padahal mereka hidup disana selama bertahun-tahun.

“Hanya penduduk asli saja yang tahu. Itupun orang-orang yang sudah sangat tua. lagipula kebanyakan orang di sini pendatang” tutur Karyono, yang mengaku berasal dari Madiun.

Kakek Bodo, meskipun cerita sejarah yang selengkapnya telah memudar tergerus arus zaman. Akan tetapi, keberadaan makam Kakek Bodo menjadi saksi bahwa sinar terang selalu ada seiring datangnya para peziarah. (Naskah/Foto: Silvyanti Nor Indah Sari)
Pada papan yang terdapat di dinding makam bertuliskan tentang seklumit kisah dari riwayat hidup Kakek Bodo....

Villa Laris, Calo Manis

Vila…Vila…Vila…
Ayo vilanya mas…

Begitulah sapaan-sapaan beberapa orang laki-laki tatkala kita memasuki daerah pegunungan. Seperti halnya yang ada di Desa Tretes, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Tepat di bawah gapura bertuliskan “Tingkatkan Pembangunan Dengan Semangat Untung Suropati”, mereka bersiap menghantar orang luar kota yang berkenan meggunakan jasa calo (orang yang berprofesi menawarkan suatu hal, red) dalam mencari vila. Pemandangan ini kerapkali kita jumpai di tempat wisata, khususnya di daerah dataran tinggi lainnya.

Calo di Desa Tretes atau biasa dikenal dengan sebutan Calo Tretes ada sejak tahun 70-an. “Karena pada saat itu ada sebuah obyek wisata terkenal yaitu Air terjun Kakek Bodo,” ujar salah seorang calo vila Asub (nama samaran).

Dia pun bertutur bahwa setelah obyek wisata ini digemari banyak pengunjung wisatawan domestik maupun mancanegara, maka perlahan bermunculan berbagai macam tempat penginapan maupun restoran. Berangkat dari sinilah pekerjaan sebagai calo makin banyak yang menggeluti.

Mulanya beberapa calo berkumpul dengan teman-teman seprofesi di pangkalan ojek. Di pangkalan calo-calo itu menawarkan dirinya kepada setiap orang lewat didepannya, “Vila… vila... mas…pak … villanya pak?,” tawaran yang sering keluar dari para calo.

Setelah ada pengunjung yang merespon, segeralah calo itu menemui pengunjung tersebut. Selanjutnya, proses transaksi dimulai. Dari menanyakan apa yang diinginkan si pengunjung itu. Dan bermacam-macam kemauan pengunjung, ada yang ingin diantarkan ke tempat wisata atau penginapan.

Jika si pengunjung itu mencari tempat penginapan, maka ia menawarkan tempat penginapan yang sesuai dengan keinginan berikut harganya. Jika si pengunjung itu merasa cocok akan tempat dan harganya dan setuju menginap, maka ia memperoleh komisi 10-20 persen harga sewanya dari pemilik tempat penginapan itu.

Calo PSK
Calo-calo tersebut selain menjajakan vila (penginapan), mereka juga menawarkan wanita-wanita yang ada di Desa Tretes yang bekerja sebagai Pekerja Seks Komesrsial (PSK).

Melihat peluang bisinis ini yang begitu menjanjikan, akhirnya beberapa calo tersebut juga mencabang menjadi calo PSK. Tidak sedikit lelaki hidung belang yang senang meminta bantuan jasa calo. Sementara itu lokasi PSK tersebut berada di rumah-rumah perkampungan warga setempat.

Menariknya, meskipun berada di lingkungan warga, ada aturan yang harus dipatuhi warga sekitar Desa Tretes. Yaitu bagi warga yang asli Desa Tretes dilarang keras bekerja sebagai PSK. Jadi jika ada wanita di daerah situ ikut kerja PSK maka ia diusir paksa keluar dari daerah itu. “Jadi selama ini yang bekerja sebagai PSK adalah para pendatang,” kata Asub.

Sudah banyak ormas-ormas sosial maupun keagamaan yang berusaha menutup bisnis lokalisasi seks terselubung itu. Menurut mereka bisnis ini akan merusak moral bangsa dan sangat diharamkan oleh agama. Tetapi warga sekitar menolak keras niatan dan tindakan mereka yang ingin membubarkannya. Dan yang melindungi niatan warga adalah Musyawarah Pimpinan Keamanan (Muspika) setempat akan siap melindungi bisnis ini. Muspika ini sendiri terdiri dari Koramil, dan Tokoh-tokoh setempat.

Pernah terjadi rapat antara warga, Muspika, dan salah satu ormas keagamanan untuk menyelesaikan masalah ini. Warga menyatakan bahwa mereka mau bisnis ditiadakan jika ormas tersebut mau memberikan solusi lapangan pekerjaan bagi mereka. Dalam hati kecil seluruh warga sebenarnya tidak mengharapkan adanya bisnis prostitusi ini, tapi hanya dari bisnis inilah sumber mata pencaharian terbesar yang mereka peroleh. (Naskah: Reza Nurmansyah)



Wednesday, December 12, 2007

Petak-Petak Katak yang Menjanjikan

Petak kolam penangkaran katak. Di tempat inilah benih-benih katak siap untuk dijual...



Suasana alam tak terelakkan tatkala gemiricik air keluar cerobong-cerobong bambu. Belum lagi rindangnya pohon-pohon bambu dan pisang yang berdiri di sekitar penangkaran. Hmm, menambah nyaman di dalamnya.

Di dalam Lahan seluas 4250 meter yang terletak di Desa Pecalukan, Tretes, Pasuruan ini terdapat 48 kolam penakaran katak dan 2 kolam penakaran lobster. Setiap hari Suparno (38) pengelolah tempat ini dengan dibantu dua orang karyawan dengan tekun mengamati setiap kolam.

Jenis Bullfrog
Sebanyak 48 kolam penangkaran berisi 6 ribuan ekor katak. Di sini menurut Suparno ditangkarkan katak berjenis bullfrog atau sering disebut katak lembu. ”Katak jenis inilah yang sering dikonsumsi manusia,” imbuhnya.

Kolam penangkaran dengan ukuran 1 x 1,5 meter berisi 75 ekor katak usia satu tahun. Sedangkan penakaran dengan ukuran 2 x 2 meter berisi 200 ekor katak usia 6 hingga 7 bulan.
Selain itu disediakan tempat khusus untuk perjodohan katak jantan dan betina. Sebelumnya, katak jantna dan betina dipisahkan dan baru diketemukan saat berusia satu tahun dan siap untuk dikembangbiakkan. Satu pasang katak biasanya menghasilkan 15-20 ribu telur katak.

Sebanyak 10 pasang katak dikembangbiakkan tiap minggunya. Selang 2-3 hari kemudian katak betina mengeluarkan telurnya. Semingu kemudian telur tersebut menetas dan siap untuk dipisahkan di tempat tersendiri.

Untuk katak yang layak dikonsumsi manusia, menurut Suparno adalah katak berusia 6-7 bulan dengan berat 2,5-3 ons. ”Di usia ini daging katak masih lunak,” tambahnya.

Harga katak yang layak dikonsumsi manusia sebesar Rp 25 ribu per kilogram. Sedangkan berudu usia 1 bulan dijual dengan harga Rp 70 per ekor. Jika usia katak lebih dari satu tahun, harga jualnya kurang dari Rp 2 ribu per kilogram.

Biasanya penangkaran di tempat tersebut menyalurkan katak-katak pada rumah makan atau restoran yang ada di vila-vila Tretes. Dan terkadang pula Suparno melayani penjualan luar kota. Seperti Surabaya, Malang, dan Batu.

Setiap hari pengelola penangkaran memberi makan katak dengan BF6 (Bullfrog 6) yaitu sejenis makanan khusus katak jenis bullfrog. Untuk perawatan kebersihan tempat penangkaran harus dibersikan setiap hari dari lumut, dan kotoran lain yang ada. ”Hal ini dilakukan agar katak bisa bergerak bebas dan pertumbuhan katak bisa maksimal,” ujar salah seorang karyawan.

Selain penangkaran katak di lahan tersebut juga dilakukan bisnis penangkaran lobster. Untuk kolam penangkarannya sendiri disediakan dengan ukuran 4 x 10 meter berisi 2 ribuan ekor lobster.

Sebelumnya lobster di tempat ini berisi 8 ribuan ekor. Namun, selama 4 bulan sebanyak 6 ribuan ekor lobster mati. Hal ini disebabkan karena air di tempat ini terlalu dingin. Seperti dijelaskan Suparno banyak lobster yang tidak cocok dengan air dingin. Sehingga, harus merelakan ribuan lobster mati. (Lailatu Sakinah)


Pakan katak jenis BF6 (Bullfrog 6) yaitu sejenis makanan khusus katak jenis bullfrog. Merupakan jenis makanan bagi katak yang sangat baik...