Friday, December 21, 2007

Cahaya Bersinar di Tengah Kota



Usia bangunannya memang sudah puluhan tahun. Namun, keeksotikan arsitektur bergaya Eropa mengajak sekejap mata menengadah untuk menikmati gedung penuh sejarah itu.

Gedung bernama Balai Pemuda ini memiliki karakteristik arsitektur gaya Eropa yang dimodifikasi dengan kondisi lingkungan Indonesia yang beriklim tropis basah. Maka bentuk bangunannya nampak unik sebagai ungkapan perpaduan dua gaya arsitektur. Perpaduan gaya Eropa terlihat dari bentuk kubah dengan gaya Gotik, dan pada gewel yang menunjukkan ciri bangunan khas Belanda.

Untuk penggunaan gedung Balai Pemuda yang dulunya diklaim sebagai gedung berkumpulnya para pemuda pada jaman perang pun beragam. Selain untuk melestarikan kebudayaan, kini tempat yang banyak memunculkan seniman-seniman handal juga menjadi pusat pertunjukan seni di Surabaya. ”Ini memang fungsi balai pemuda,” tegas Kepala UPTD Balai Pemuda Nirwana Yuda.

Sejarah Balai Pemuda
Pada masa penjajahan bisa dikatakan adalah waktu pembangunan besar-besaran di Indonesia. Selain merugikan dan memakan korban banyak juga menjadi sebuah keuntungan tersendiri bagi bangsa Indonesia.

Tidak dipungkiri lagi dengan dijajahnya bangsa Indonesia kita telah membangun hampir seluruh infrastruktur. Pada awal kemerdekaan bangunan-bangunan ini menjadi kantor-kantor pemerintah.

Begitu juga Balai Pemuda Surabaya pada masa itu. Pada tahun 1907 awal dibangunnya, gedung ini berfungsi sebagai tempat rekreasi warga Belanda. Gedung ini digunakan sebagai tempat dansa dan juga tempat bolling. Dan saat itu gedung ini benar-benar harus bersih dari orang-orang pribumi.

Alhasil, pada tahun 1945 gedung ini dikuasai arek-arek Surabaya yang tergabung dalam Pemuda Republik Indonesia (PRI). Organisasi pemuda ini terkenal ekstrim dalam bertindak pada setiap kegiatannya. Banyak orang Indonesia ataupun Belanda yang dituduh mata-mata diinterogasi di tempat ini.

Dalam perjalanannya gedung ini berhasil dikuasai oleh penguasa militer setelah sempat direbut kembali oleh Belanda. Kemudian diserahkan kepada ketua dewan pemerintah daerah kota praja Surabaya. Pada masa itu gedung ini lebih dikenal dengan nama aslinya De Simpangsche Societeit. Hingga pada peralihannya gedung ini berganti nama menjadi Balai Pemuda. Tepatnya pada tahun 1957 setelah serah terima dari komandan KKMB kepada ketua dewan pemerintahan daerah kota praja Surabaya.

Gedung di jalan pemuda no. 15 Surabya ini kini berfungsi sebagai Pusat Pagelaran Kesenian Surabaya (PPKS). Termasuk pusat pembinaan seniman atau seniwati muda yang tergabung dalam Bengkel Muda Surabaya (BMS) dan Akademi Seni Rupa Surabaya (AKSERA). Mengenai pihak penglolahan gedung bersejarah itu di bawah naungan Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Surabaya sesuai dengan Perda no.14 tahun 2005.

Melihat letaknya di tengah Kota Surabaya, gedung Balai Pemuda sepatutnya menjadi perhatian bersama terutama untuk menjaga nilai-nilai sejarahnya. Sehingga sampai nanti gedung tersebut selalu bersinar ibarat cahaya yang menerangi tengah kota. (Naskah: Guntur IP / Foto: Dhimas P)

No comments: