Seiring bergeser mentari menuju ufuk barat. Berbagai aktifitas warga sekitar Makodam V Brawijaya pun tampak terlihat mulai memeriahkan suasana sore itu. Langit tampak cerah kebiruan mulai pedagang kaki lima yang hendak menjajakan dagangannya, anak-anak kecil bermain bola maupun bersepeda seolah menyapa pengunjung yang hadir. Tak jarang tempat ini juga kerap dijumpai pasangan muda-mudi yang lagi asik dilanda asmara. (Dhimas P. / M. Ridlo'i)
Sunday, April 01, 2007
Galeri Foto
Jelang Senja di Lapangan Kodam V Brawijaya
Seiring bergeser mentari menuju ufuk barat. Berbagai aktifitas warga sekitar Makodam V Brawijaya pun tampak terlihat mulai memeriahkan suasana sore itu. Langit tampak cerah kebiruan mulai pedagang kaki lima yang hendak menjajakan dagangannya, anak-anak kecil bermain bola maupun bersepeda seolah menyapa pengunjung yang hadir. Tak jarang tempat ini juga kerap dijumpai pasangan muda-mudi yang lagi asik dilanda asmara. (Dhimas P. / M. Ridlo'i)
Diposting oleh
ADAKHIL SANG PENAKLUK
di
2:55 PM
0
komentar
Kisah Mahabarata Tersirat dalam Tari Barong
Iringan bunyi gamelan, menyuarakan suara-suara merdu, serta panggung yang ditata menyerupai hutan membawa kenyamanan ratusan penonton yang ada di gedung pertunjukan Putra Barong, Gianyar Bali.
Begitu pula tepuk riuh mereka yang menggema di seluruh sudut ruangan, sore itu (26/1). Ikut meramaikan pertunjukkan bertajuk “ Tari Barong dan Keris".
Pagelaran seni khas Bali ini menggambarkan pertarungan antara kebajikan melawan kebatilan. Barong adalah makhluk mithologi yang menceritakan kebajikan dan Rangda yang kala itu berubah menjadi sosok roh jahat (setan).
Siapa sangka tarian khas Bali ini ternyata bukanlah budaya asli Indonesia, melainkan budaya Cina. Yaitu Barongsai, namun budaya ini masuk ke Indonesia melalui beberapa tahapan hingga akhirnya menjadi Barong kejet yang menggambarkan seekor singa. Barong adalah sosok raja hutan yang diutus untuk menjaga kelestarian hutan tersebut.
pertarungan kebajikan melawan kebatilan
Selain itu di balik tarian - tarian ini, ternyata banyak cerita yang diambil dari kisah kehidupan Mahabarata. seperti yang diceritakan dalam kisah Dewi Kunti dan kedua pengikutnya yang turun ke bumi. Setelah kesalahan yang di buat oleh Dewi Uma, yang diutus untuk mencari obat air susu ke dunia. Namun sang Dewi Uma melakukannya dengan jalan yang salah yaitu dengan menukar harga dirinya.
Kala itu di istana pura sedang tertimpa bencana wabah penyakit, yang obatnya itu harus berupa air susu. Kemudian dewi kunti mendengar suara sabda, salah satu putranya untuk dipersembahkan pada Dewi Durga (dewi penunggu kuburan).
Sebenarnya Dewi Kunti tidak sampai hati mengorbankan putrannya Shadewa, tetapi Dewi Durga memasukan roh jahat kepadanya yang menyebabkan Dewi Kunti marah dan berniat mengorbankan anaknya serta memerintahkan patihnya untuk membuang Sahadewa ke dalam hutan dan mengikatnya. Namun patihnya pun tidak luput dari kemasukan roh jahat.
Kemudian turunlah Dewa Siwa dan memberikan keabadian bagi sahadewa. Namun niat Rangda untuk membunuhnya, tidak dapat diwujudkan karena kekebalan yang dianugrahkan oleh Dewa Siwa. Pada akhirnya Rangda menyerah serta memohon kepada sahadewa untuk diselamatkan karena dengan demikian dirinya bisa masuk sorga.
kemudian Kalika (seorang pengikut rangda) pergi menghadap Sahadewa. Namun sumpah yang diucapkan di tolak dan menimbulkan perkelahian. Kalika pun berubah wujud menjadi babi hutan hingga akhirnya menjadi burung. Akan tetapi masih dikalahkan Sahadewa. Dan akhirnya Kalika berubah wujud untuk ketiga kalinya menjadi sosok Rangda. Oleh karena kesaktiannya Rangda, Sahadewa tidak dapat membunuh hingga akhirnya Sahadewa berubah rupa menjadi Barong.
Karena sama saktinya pertarungan ini tidak ada yang menang. Dengan demikian perkelahian antara kebajikan melawan kebatilan tetap abadi. Kemudian muncul lah pengikut-pengikut Barong dengan kerisnya.Dan pada akhirnya mereka ini semua pun tidak ada yang berhasil melawan kesaktian rangda dalam sebuah pertunjukkan tari Barong.
Namun banyak pengunjung yang kurang paham dengan alur cerita yang digambarkan. Seperti halnya celetuk salah seorang penonton, "sebenarnya ceritanya kurang mengena dari maksud tariannya, tapi kita tertarik karena tarian yang begitu atraktif." (foto/naskah: Shiska pradibka)
Iringan bunyi gamelan, menyuarakan suara-suara merdu, serta panggung yang ditata menyerupai hutan membawa kenyamanan ratusan penonton yang ada di gedung pertunjukan Putra Barong, Gianyar Bali.
Begitu pula tepuk riuh mereka yang menggema di seluruh sudut ruangan, sore itu (26/1). Ikut meramaikan pertunjukkan bertajuk “ Tari Barong dan Keris".
Pagelaran seni khas Bali ini menggambarkan pertarungan antara kebajikan melawan kebatilan. Barong adalah makhluk mithologi yang menceritakan kebajikan dan Rangda yang kala itu berubah menjadi sosok roh jahat (setan).
Siapa sangka tarian khas Bali ini ternyata bukanlah budaya asli Indonesia, melainkan budaya Cina. Yaitu Barongsai, namun budaya ini masuk ke Indonesia melalui beberapa tahapan hingga akhirnya menjadi Barong kejet yang menggambarkan seekor singa. Barong adalah sosok raja hutan yang diutus untuk menjaga kelestarian hutan tersebut.
pertarungan kebajikan melawan kebatilan
Selain itu di balik tarian - tarian ini, ternyata banyak cerita yang diambil dari kisah kehidupan Mahabarata. seperti yang diceritakan dalam kisah Dewi Kunti dan kedua pengikutnya yang turun ke bumi. Setelah kesalahan yang di buat oleh Dewi Uma, yang diutus untuk mencari obat air susu ke dunia. Namun sang Dewi Uma melakukannya dengan jalan yang salah yaitu dengan menukar harga dirinya.
Kala itu di istana pura sedang tertimpa bencana wabah penyakit, yang obatnya itu harus berupa air susu. Kemudian dewi kunti mendengar suara sabda, salah satu putranya untuk dipersembahkan pada Dewi Durga (dewi penunggu kuburan).
Sebenarnya Dewi Kunti tidak sampai hati mengorbankan putrannya Shadewa, tetapi Dewi Durga memasukan roh jahat kepadanya yang menyebabkan Dewi Kunti marah dan berniat mengorbankan anaknya serta memerintahkan patihnya untuk membuang Sahadewa ke dalam hutan dan mengikatnya. Namun patihnya pun tidak luput dari kemasukan roh jahat.
Kemudian turunlah Dewa Siwa dan memberikan keabadian bagi sahadewa. Namun niat Rangda untuk membunuhnya, tidak dapat diwujudkan karena kekebalan yang dianugrahkan oleh Dewa Siwa. Pada akhirnya Rangda menyerah serta memohon kepada sahadewa untuk diselamatkan karena dengan demikian dirinya bisa masuk sorga.
kemudian Kalika (seorang pengikut rangda) pergi menghadap Sahadewa. Namun sumpah yang diucapkan di tolak dan menimbulkan perkelahian. Kalika pun berubah wujud menjadi babi hutan hingga akhirnya menjadi burung. Akan tetapi masih dikalahkan Sahadewa. Dan akhirnya Kalika berubah wujud untuk ketiga kalinya menjadi sosok Rangda. Oleh karena kesaktiannya Rangda, Sahadewa tidak dapat membunuh hingga akhirnya Sahadewa berubah rupa menjadi Barong.
Karena sama saktinya pertarungan ini tidak ada yang menang. Dengan demikian perkelahian antara kebajikan melawan kebatilan tetap abadi. Kemudian muncul lah pengikut-pengikut Barong dengan kerisnya.Dan pada akhirnya mereka ini semua pun tidak ada yang berhasil melawan kesaktian rangda dalam sebuah pertunjukkan tari Barong.
Namun banyak pengunjung yang kurang paham dengan alur cerita yang digambarkan. Seperti halnya celetuk salah seorang penonton, "sebenarnya ceritanya kurang mengena dari maksud tariannya, tapi kita tertarik karena tarian yang begitu atraktif." (foto/naskah: Shiska pradibka)
Diposting oleh
ADAKHIL SANG PENAKLUK
di
2:42 PM
1 komentar
Label: SENI DAN BUDAYA
HOBI DATANGKAN BERKAH
Sebagian orang menganggap hobi hanya sebagai pengisi waktu luang saja. Akan tetapi tidak demikian halnya bagi Diar Listiya Astriana. Baginya hobi dapat mendatangkan uang. Berawal dari kegemarannya mendengarkan musik dan berbicara, mengantarkannya menjadi penyiar radio swasta Sonora FM.
Menjadi seorang penyiar tidak semudah seperti yang dibayangkan. Hal ini seperti yang dirasakan dara yang bercita-cita menjadi seorang reporter. “ Seorang penyiar itu harus bisa membuat pendengar mengerti apa yang mau di sampaikan,” ungkapnya.
Menurutnya selain harus memiliki sifat supel, seorang penyiar juga harus cerdas dan mempunyai keinginan untuk terus belajar. Hal inilah yang dirasakan mahasiswi semester II yang memiliki panggilan Diar ini.
Saat ditanya mengenai kesulitannya menjadi penyiar. Cewek pecinta basket ini mengatakan menjadi seorang penyiar memang sangat sulit apalagi membawakan hal yang berbau politik.
"Pengalaman ini saya rasakan tatkala berumur 19 tahun, sehingga memaksaku untuk belajar mengenai seluk beluk dunia politik,” katanya. Diar memilki angan-angan yang masih belum terwujud. Dirinya sangat memimpikan untuk bersekolah, kerja dan tinggal di luar negeri dan negara yang dipilihnya adalah Singapura. "Walaupun negara yang kecil tetapi termasuk salah satu negara yang maju di Asia,” imbuhnya.
Tentu saja keinginan ini tidak gampang untuk diraihnya, karena dia harus mempunyai titel S1 dan memiliki nilai toefl yang tinggi. Alasan inilah yang membuat mahasiswi penggemar rapper Eminem ini bersekolah di stikosa-AWS.
Sebelum menjadi seorang penyiar seperti sekarang ini, dia juga sempat menjadi sekertaris Public Relations (PR) di sebuah hotel berbintang di Surabaya. - Eva Mayasari Hidayanti
Curiculum Vitae
Nama
Diar Listiya Astriana
Tempat tanggal lahir
Surabaya, 23 Desember 1985
Alamat
Jln. Gresik 39
Hobi
Main Basket, dengerin musik dan ngobrol.
Cita-cita
sekolah, kerja dan tinggal di luar negeri.
Menjadi seorang penyiar tidak semudah seperti yang dibayangkan. Hal ini seperti yang dirasakan dara yang bercita-cita menjadi seorang reporter. “ Seorang penyiar itu harus bisa membuat pendengar mengerti apa yang mau di sampaikan,” ungkapnya.
Menurutnya selain harus memiliki sifat supel, seorang penyiar juga harus cerdas dan mempunyai keinginan untuk terus belajar. Hal inilah yang dirasakan mahasiswi semester II yang memiliki panggilan Diar ini.
Saat ditanya mengenai kesulitannya menjadi penyiar. Cewek pecinta basket ini mengatakan menjadi seorang penyiar memang sangat sulit apalagi membawakan hal yang berbau politik.
"Pengalaman ini saya rasakan tatkala berumur 19 tahun, sehingga memaksaku untuk belajar mengenai seluk beluk dunia politik,” katanya. Diar memilki angan-angan yang masih belum terwujud. Dirinya sangat memimpikan untuk bersekolah, kerja dan tinggal di luar negeri dan negara yang dipilihnya adalah Singapura. "Walaupun negara yang kecil tetapi termasuk salah satu negara yang maju di Asia,” imbuhnya.
Tentu saja keinginan ini tidak gampang untuk diraihnya, karena dia harus mempunyai titel S1 dan memiliki nilai toefl yang tinggi. Alasan inilah yang membuat mahasiswi penggemar rapper Eminem ini bersekolah di stikosa-AWS.
Sebelum menjadi seorang penyiar seperti sekarang ini, dia juga sempat menjadi sekertaris Public Relations (PR) di sebuah hotel berbintang di Surabaya. - Eva Mayasari Hidayanti
Curiculum Vitae
Nama
Diar Listiya Astriana
Tempat tanggal lahir
Surabaya, 23 Desember 1985
Alamat
Jln. Gresik 39
Hobi
Main Basket, dengerin musik dan ngobrol.
Cita-cita
sekolah, kerja dan tinggal di luar negeri.
Diposting oleh
ADAKHIL SANG PENAKLUK
di
2:36 PM
0
komentar
Label: PROFIL
ABADIKAN KECERIAAN MASA KECIL
Berbagai keceriaan anak-anak kecil terabadikan dalam sebuah karya foto angkatan baru Himpunan Mahasiswa Penggemar Fotografi (Himmarfi) 'Kereta Pagi'.
Seperti yang terlihat di foto berjudul 'Ngiyup' karya Isma mahasiswi semester II jurnalistik. Pada fotonya menggambarkan dua anak kecil yang sedang berteduh di bawah ujung kapal yang terdampar di sebuah pantai.
Selesai mengikuti Himmarfi Bassic Training (HBT) tidak serta merta membuat calon anggota baru Himmarfi santai. Hanya berselang beberapa minggu saja mereka sudah harus membuat pameran sebagai syarat untuk menjadi anggota muda Himmarfi.
Pameran bertema "Keceriaan Masa Kecil" yang bertempat di pendopo kampus Stikosa-AWS, ini dibuka pada 20 Maret lalu. 26 karya dari 13 anggota baru Himmarfi tersebut akan dipajang hingga 26 Maret nanti.
Menurut Ketua Pelaksana pameran Michael Ola tema tersebut diambil, karena masa kecil adalah masa dimana setiap orang pernah mengalami dan tak bisa diulang. "Konsep ini juga diambil karena lebih fokus daripada konsep yang lainnya," imbuhnya. (Naskah/Foto: Guntur IP/Dimas P.)
Seperti yang terlihat di foto berjudul 'Ngiyup' karya Isma mahasiswi semester II jurnalistik. Pada fotonya menggambarkan dua anak kecil yang sedang berteduh di bawah ujung kapal yang terdampar di sebuah pantai.
Selesai mengikuti Himmarfi Bassic Training (HBT) tidak serta merta membuat calon anggota baru Himmarfi santai. Hanya berselang beberapa minggu saja mereka sudah harus membuat pameran sebagai syarat untuk menjadi anggota muda Himmarfi.
Pameran bertema "Keceriaan Masa Kecil" yang bertempat di pendopo kampus Stikosa-AWS, ini dibuka pada 20 Maret lalu. 26 karya dari 13 anggota baru Himmarfi tersebut akan dipajang hingga 26 Maret nanti.
Menurut Ketua Pelaksana pameran Michael Ola tema tersebut diambil, karena masa kecil adalah masa dimana setiap orang pernah mengalami dan tak bisa diulang. "Konsep ini juga diambil karena lebih fokus daripada konsep yang lainnya," imbuhnya. (Naskah/Foto: Guntur IP/Dimas P.)
Diposting oleh
ADAKHIL SANG PENAKLUK
di
2:29 PM
0
komentar
Label: CIVITAS
Subscribe to:
Posts (Atom)



