Monday, June 11, 2007

Gigih Junjung Tut Wuri Handayani

Tangannya yang memiliki ukuran hanya setengah dari tangan orang dewasa itu. Dua botol soft drink dibawanya keluar dengan pegangan yang kuat. Sehingga tak tampak sama sekali gambaran seorang yang memiliki cacat pada tangannya.

Sembari sesekali mengumbar senyuman, Siti Hadarah (58) wanita yang telah mengabdikan sepanjang hidupnya sebagai seorang guru ini pagi itu mulai melayani anak-anak sekolah di SMP Negeri 10 Surabaya.

Mengenai profesinya sebagai seorang pahlawan tanpa tanda jasa ini, menurutnya dulu tak terlintas sedikitpun menjadi seorang guru. “Dulu saya cuma coba-coba ikut tes pegawai negeri eh kok malah diterima menjadi seorang guru.” ungkapnya. Pagi itu, tepat pukul 07.30 tiba-tiba Siti mulai bergegas keluar dari rumahnya yang berada di kawasan Pulo, Wonokromo, Surabaya. Karena ukuran tubuhnya dan cacat pada tangannya menjadikan dia memakai jasa ojek untuk sampai di sekolah yang terletak di raya Kartini Surabaya.

Setelah itu menjelang maghrib dia pulang ke rumah. Kemudian dilajut dengan aktifitas yang dilakukan selepas shalat maghrib, yakni membuat es batu untuk dijual esok hari. ”Sehabis itu barulah saya istirahat,” imbuh ibu kelahiran Makassar ini.

Ketika usianya masih muda Siti mengaku berangkat ke Sekolah tempatnya menjalani rutinitas dengan mengayuh sepeda. ”Akan tetapi sekarang saya sudah tak kuat lagi naik sepeda,” ujarnya dengan senyuman kecil di bibirnya.

Dari pengalamannya berangkat mengajar dengan naik sepeda tersebut. Siti sempat dijuluki kawan-kawan seprofesinya sebagai umi bakri (mencuplik dari salah satu judul lagu Iwan Fals ’Umar bakrei’). Sebuah lagu yang menggambarkan mulianya sosok seorang guru yang berangkat dengan mengayuh sepeda tuanya. ”Ya, kala itu mereka memanggil saya ’umi bakri...umi bakri....umi bakri,” imbuhnya serasa menirukan sapaan beberapa kawan pada dirinya.

Tak ada sedikitpun raut muka yang menunjukkan penderitaannya selama ini. Semua terbawa oleh sifatnya yang sangat humoris dan menghibur. Meski, keseharian guru bahasa Indonesia ini dihabiskan di Sekolahan. “Beginilah kalau pagi saya jaga kopsis (koperasi siswa) dan siangnya saya mengajar,” ujarnya.

Ibu yang satu ini mengaku mempunyai 14 orang anak buah pernikahannya dari suami yang pertama dan kedua. Suami pertamanya telah meninggal, lalu ia menikah lagi dengan kakak iparnya sendiri.

Dengan jumlah anak yang tak sedikit, sama sekali tak menyurutkan niatnya untuk bersosial dengan yang lain. Ada sekitar 11 orang anak asuhnya yang sengaja dititipkan dari saudara-saudaranya.

Dengan jumlah anak sekaligus anak asuh sebanyak itu tak membuatnya berkecil hati. Untuk makan dia mengharapkan bantuan dari yayasan sosial dharma wanita koramil. Namun, jika tidak ada ia memberikan kail atau pancing pada anak-anaknya untuk mencari ikan di sungai.
“Kalau dapat ya kami makan ikan itu, tapi kalau tidak mereka saya suruh cari kangkung di sekitar sungai, gitu aja kok repot.” ujarnya sambil berkelakar.

Dengan seluruh kekurangannya dia telah mengabdikan hidupnya selama 30 tahun untuk menjadi seorang guru. Meski, untuk sekedar menulis di papan tulispun ia tak bisa. “ jadi saat saya mengajarr di ruang kelas cukup diterangkan saja lewat lisan,” ucapnya.

Dari proses belajar yang dilakukannya seperti itu, dia merasa cukup berhasil. Karena menurutnya percuma anak-anak sekolah sekarang kalau diberi catatan jarang dibuka.
Seiring dengan tuntutan dan tanggung jawab yang tak begitu ringan mengemban profesi sebagai seorang guru. Siti Hadarah dengan kondisi tubuhnya yang cacat masih terlihat begitu gigih menjunjung tinggi moto pendidikan ’Tut Wuri Handayani’.

Naskah: Shiska P, Guntur IP/
Foto: Wahyu Triatmojo)


Curriculum Vitae
Nama Lengkap : Siti Hadarah
Tempat, tanggal lahir : Makassar, 10 Juli 1948
Agama : Islam
Profesi : Guru SMPN 10 Surabaya
Hobbi : Bulu Tangkis
Alamat : Pulo Wonokromo Gg pasir 4 No. 140 Surabaya.
Pendidikan : - S1 IKIP tahun 1976 - D3 Unesa tahun 1999

1 comment:

Boby Noviarto Pribadi said...

cerita yang menarik, untuk foto mungkin bisa di eksplore lagi, misalnya foto ketika dirumah, perjalanan dll.

nice story