Sunday, April 01, 2007

STIKOSA - AWS MENANGKAN HIBAH DIKTI

Beberapa perguruan tinggi negeri maupun swasta di Surabaya mulai berlomba-lomba memenuhi fasilitas kampus, dengan mengharapkan pengajuan bantuan pada Ditjen Pendidikan Tinggi (DIKTI).

Terlebih pada sebagaian universitas yang memiliki jurusan ilmu komunikasi. Misalnya Universitas Kristen Petra (UKP), Unirvesitas Airlangga (Unair), dan Universitas Dr.Soetomo (Unitomo). Ketiga kampus tersebut mempunyai nilai plus dalam menunjang apresiasi belajar mahasiswanya. Mulai membangun fasilitas pendukung pendidikan dengan konsep dan persiapan yang serius telah dilakukan.

Tidak mau ketinggalan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi-Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS), yang notabene adalah kampus tertua di bidang komunikasi dalam kancah Surabaya. Di mana porsi mata kuliah yang mendominasi lebih berorientasi pada praktek, juga tengah melakukan hal yang sama.

Oleh karena itu, para pemegang kebijaksanaan di kampus ini sedang asyik-asyiknya melakukan pembenahan-pembenahan fisik maupun nonfisik yang mendukung kegiatan mahasiswa.

Memasuki awal tahun 2005, era kepemimpinan Nadim Zuhdi, terhitung sudah ada beberapa peningkatan fasilitas kampus, walaupun dirasa terkesan agak lamban. Sebut saja beberapa fasilitas tersebut misalnya, pe-refresan alat berupa infokus LCD-Proyektor, OHP, dan beberapa komputer yang mendukung pemenuhan fasilitas kampus.

Menanggapi keadaan pemenuhan fasilitas kampus yang terkesan lamban, Ketua Stikosa-AWS Nadim Zuhdi mengatakan bahwa semuanya itu ada prosesnya, tidak bisa secara instan. "Kami mendapatkan fasilitas itu pun tidak mudah, yaitu dengan hibah bersaing," tukasnya.

Hibah bersaing? Saat ditanya lebih lanjut mengenai hal tersebut, ia memaparkan lebih lanjut bahwa fasilitas tersebut diperoleh dari bantuan Ditjen Pendidikan Tinggi (DIKTI) pusat pada awal tahun lalu. "Itu pun kami peroleh melalui proses yang cukup lama," ungkap Nadim.

Proses yang harus dilewati adalah lewat pengajuan proposal permintaan bantuan terlebih dahulu kepada DIKTI yang saingannya tidak sedikit. Kemudian berlanjut ketahapan berikutnya yaitu dari pihak Dikti mengundi kampus manakah yang berhak menerima bantuan fasilitas.

Mengenai Fresh Money, Nadim-Cholil Beda Pendapat
Alhasil, dari kelima perguruan tinggi yang mendapatkan berupa bantuan fasilitas kampus dari DIKTI salah satunya adalah Stikosa-AWS.

"Bantuan itu awalnya berupa, lalu kami sendiri yang membelanjakan berupa peralatan berupa fasilitas penunjang belajar mahasiswa," kata Koordinator Bagian Administrasi Umum (BAU) Stikosa-AWS, M.Cholil pada Acta Surya.

Namun, pernyataan Cholil dibantah oleh Nadim. Bahwa bantuan awalnya berupa peralatan bukan fresh money. ”Bantuan itu bukan berupa uang, melainkan berupa fasilitas prasarana kampus,” sergahnya.

Lantas, bagaimana wujud pendistribusian dan penggunaan fasilitas tersebut? Menurut Cholil mengenai pendistribusian fasilitas masih dikendalikan sepenuhnya oleh ketua Stikosa-AWS. Sedangkan untuk penggunaannya diserahkan sepenuhnya pada Koordinator Pengajaran Zaenal Arifin Emka.

"Penggunaan ruangan ataupun fasilitas lainnya ditetapkan menurut pengaturan kurikulum pengajaran yang dibuat oleh Program Studi (Prodi) kampus," tambahnya.

Mengenai hal ini Nadim merasa sudah cukup puas terhadap pengembangan pengadaan fasilitas kampus. "Sampai saat ini mahasiswa bisa belajar dan pegawai bisa bekerja dan kami berani bersaing dengan kampus-kampus lain," ujar Nadim, selaku penanggung jawab fasilitas kampus.

Lain akademik lain pula mahasiswa. Beberapa mahasiswa mengaku bahwa mengenai pengembangan dan pengadaan fasilitas kampus dirasakan sangat lamban. Seperti halnya yang diutarakan oleh Ketua AWS FM Devy Ary Susanty. Ia mengaku bahwa perkembangan pengadaan fasilitas sangat kurang. "Komputernya saja kurang up to date bagi organisasi-organisasi kampus," ujar mahasiswi semester II jurusan jurnalistik ini.

Disinggung masalah fasilitas komputer kurang memadai yang dirasakan oleh sebagian besar mahasiswa, koordinator BAU Stikosa-AWS pun membantahnya. "Sampai saat ini belum ada mahasiswa yang komplen secara langsung pada kami," bantah M. Cholil.

Namun, akademik tak akan mengambil langkah diam dalam hal ini. Pengadaan komputer di beberapa tempat utama yang ada di kampus bakal diwujudkan. Misalnya saja diperpustakaan dan di pendopo kampus. "Semua itu untuk mempermudah mahasiswa di luar kegiatan belajarnya," ucap Cholil.

Mengenai pembenahan-pembenahan fisik maupun teknis pihak akademik kampus sudah mengkonsepnya sejak awal September 2006. Dan menurut Cholil rencananya akan direalisasikan setelah Ujian akhir Sekolah(UAS) 2007 nanti. (Andrian Saputri)

Nadim : Fasilitas Kampus Sudah Cukup Mumpuni

Seiring dengan perkembangan era globalisasi dan teknologi yang semakin canggih, seluruh perguruan tinggi yang berada di pelosok Surabaya sedang berlomba-lomba melakukan pembenahan fasilitas kampus. Begitupun juga yang dilakukan oleh Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi-Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS). Kampus yang dianggap oleh sebagian orang sebagai gudangnya calon-calon jurnalis ini, sedang 'getol-getolnya' melakukan pembenahan fasilitas fisik maupun non teknis.

Berikut hasil wawancara Acta Surya dengan Ketua Stikosa-AWS Nadim Zuhdi mengenai perkembangan pengadaan fasilitas kampus ini, Selasa(13/3) :

Sejauh mana anda mengetahui tentang perkembangan fasilitas kampus sebelum masa kepemimpinan anda?
Maaf, saya kurang paham mengenai perkembangan ataupun pengadaan fasilitas sebelum kepemimpinan saya.

Sampai saat ini pada kepemimpinan anda, dana untuk pengadaan fasilitas kampus diperoleh dari mana?
Dana yang diperoleh cukup banyak, diantaranya dari pembayaran uang kuliah mahasiswa dan pemasukan kecil dari dana bantuan skripsi. Tapi pengadaan fasilitas kemarin kita peroleh dari bantuan Ditjen Pendidikan Tinggi (DIKTI) dengan aturan main hibah bersaing dengan kampus-kampus lain.

Dari hibah bersaing, artinya dana intern kampus tidak digunakan sama sekali?
Dana intern kampus masih digunakan untuk pembenahan fasilitas yang tidak kelihatan. Seperti halnya perbaikan gedung kampus ataupun pengecetan ulang ruang kelas, dan apabila ada ruangan yang bocor atapnya.

Apakah yang diberikan oleh DIKTI pertama kali?
Dikti sendiri memberikan fasilitas non fisik berupa peralatan, sedangkan akademik memberikan fasilitas fisik berupa pembenahan-pembenahan gedung.

Saat ini, fasilitas kampus yang benar-benar kelihatan menurut anda apa?
Saya rasa peralatan-peralatan yang ada sekarang terbilang sudah cukup mumpuni di bidangnya.

Bisa anda sebutkan fasilitas apa yang terbilang cukup canggih itu?
Misalnya saja, di setiap ruangan kelas sudah ada OHP dan layar proyektor baru.

Lalu, jika anda lihat bagaimana dengan fasilitas kampus lainnya, apa menurut anda sudah sejajar dengan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) lain?
Saya berani bertaruh dengan kampus swasta lainnya, misalnya saja UBHARA, UPN,dan UBAYA. Tapi satu saya belum berani bersaing dengan UK PETRA.

Menurut sebagaian mahasiswa kebanyakan mereka merasa belum puas dengan pengadaan fasilitas kampus, seperti komputer. Bagaimana menurut anda selaku penaggung jawab fasilitas kampus mengenai hal tersebut?
Pemenuhan fasilitas komputer memang sedang akan diusahakan,rencanannya di pendopo dan perpustakaan kampus akan diberikan fasilitas komputer yang ditujukan untuk mahasiswa dan pegawai supaya ada kemudahan untuk mengakses informasi. Dulu, Website hanya ada pada saya, tapi sekarang dosen dan LPPM sudah punya juga. pokoknya mbak, saya akan memprioritaskan mahasiswa untuk belajar dan pegawai untuk bekerja.

Kapan semua hal tersebut akan terealisasikan ?
Awal kami mengkonsep bulan September 2006, dan mungkin akan selesai pada masa-masa setelah selesai Ujian Akhir Sekolah (UAS) nanti.

Mengenai pemberian fasilitas apakah ada pengecekan ulang dari Dikti ?
Ada, biasannya yang dicek adalah peralatan yang diberikan dan diterima apakah sesuai dengan data mereka.

Maksud anda sesuai dengan data yang mereka miliki, jadi apakah selama ini pernah terjadi kerancuan data?
Sampai saat ini tidak ada, karena sebelumnya kami sudah mempersiapkan terlebih dahulu.Tapi meskipun sudah disiapkan perasaan deg-degan tetap ada, takut kalau tidak cocok.

Apakah selama ini ada hambatan untuk pemenuhan fasilitas kampus ?
Ada saja hambatanya, tapi karena kami mengkonsep terlebih dahulu fasilitas apa saja yang ingin dicapai, maka hambatannya pun tidak terlalu besar.

Untuk selanjutnya,pemenuhan fasilitas apa yang ingin dicapai ?
Sebenarnya banyak mbak yang ingin di capai,tapi semua itu butuh proses yang lama tidak bisa secara instan.Dan ini menyangkut masalah keuangan, jadi kita harus bekerja secara pelan-pelan. - Andrian Saputri

Friday, March 23, 2007

RUMAH RAJUNGAN DI PULAU MENGARE


Ibu-ibu tampak sedang memilah daging rajungan (sejenis kepiting) dari kulitnya, Kamis (22/03). Rumah usaha (Home Industry) pengelolahan daging rajungan (sejenis kepiting) ini terdapat di Kramat (P. Mengare), Bungah, Gresik......... Berita selengkapnya baca berita di bawah berjudul 'Yang Tersisa dari Pulau Mengare............



Sebelum dipilah rajungan-rajungan tersebut terlebih dulu dilakukan proses perebusan hingga memakan waktu sekitar 30 menit. (M. Ridlo'i/Guntur IP)

SENYUM ANAK PANTAI









Ceria di tepi Pulau. Keempat anak ini tampak begitu asik bermain di tepi P. Mengare Bungah Gresik. Mereka seolah tak khawatir dengan bahaya gelombang laut pasang, Kamis Sore (22/03). (M. Ridlo'i)


Dari gambar di atas pulau Sapoloh, Sumenep, Madura tampak terlihat. Foto ini diambil dari laut lepas Pulau Mengare, Bungah, Gresik. (M. Ridlo'i)

YANG TERSISA DARI PULAU MANGARE

Gapura selamat datang Pulau Mengare, Bungah, Gresik. Bangunan ini adalah pintu masuk dan keluar saat kita mendatangi pulau tersebut. (M. Ridlo'i/Acta Surya)





Sumur Tua. Bekas Sumur Peninggalan Belanda, penduduk setempat menamai peninggalan Belanda ini dengan istilah 'nomeran'. Termasuk sumur di ini yang terkenal dengan nomer 6. Letaknya dekat rumah sesepuh Pulau Mengare, mbah Bohlan di Dusun Kramat Watu Agung Pulau Mengare. Foto diambil pada Kamis (23/03): M. Ridlo'i/Acta Surya

Satu-satunya saksi hidup. Damar Wulan (89), satu-satunya saksi sejarah keberadaan Pulau Mengare, Bungah, Gresik Jawa Timur. Sayangnya ingatan kakek yang kerap disapa Mbah Bohlan akan sejarah P. Mengare sudah lemah. Foto: M. Ridlo'i/ Acta Surya

Goa persembunyian Belanda. Banyak warga setempat yang beranggapan jika goa yang terkenal dengan istilah nomer 3 ini menghubungkan desa Kramat P. Mengare dengan P. Sumenep Madura. Foto: M. Ridlo'i/ Acta Surya.



Suasana mistik, keramat, sejarah, dan nuansa Madura begitu terasa di Dusun Kramat (Pulau Mengare) Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik.

Di selak-belukar pulau tersebut banyak ditemui bekas-bekas bangunan bersejarah jaman penjajahan Belanda. Seperti halnya sebuah sumur tua yang terletak Dusun Kramat. Di dekatnya juga ditemukan sebuah jublang (semacam tempat pemandian, red).

Sementara itu, di tempat lain juga ditemukan empat buah bekas goa-goa persembunyian pasukan tentara Belanda dari rakyat Indonesia. Tepatnya di hutan yang ada di Dusun Watu Gajah dan Karang Liman.

Warga setempat menyebut aset-aset bersejarah tersebut dengan istilah nomeran. “Istilah nomeran diberikan pada sisa-sisa bangunan Belanda itu, agar kita mudah nitenine (mengingatnya),” ujar M. Sholeh (25) warga Watu Gajah pada Acta Surya Kamis siang (23/03).

Sholeh menambahkan kini nilai sejarahnya telah hilang setelah batu-batu bangunan tersebut diambil orang. “Akan tetapi tak lama sebelum pergi jauh dari lokasi pengambilan orang tersebut langsung meninggal,” imbuhnya.

Menurut keterangan salah seorang saksi sejarah Pulau Mengare, Damar Wulan (89) menjelaskan tentara Belanda datang ke sini sekitar tahun 1920-an. “Dan maaf mengenai sejarah lainnya saya sudah lupa,” ucap kakek yang kerap disapa Mbah Bohlan ini, sembari mencoba mengingat berbagai peristiwa lalu.

Legenda Putri Solo dan Ular

Tatkala kita singgah di suatu daerah, pasti banyak kisah yang bercerita tentang asal-usulnya. Begitu juga di Pulau Mengare, banyak kisah di balik kesunyian tempat ini. Awal mula Pulau yang memiliki jumlah penduduk sekitar 9.200 jiwa itu terkuak dari sebuah legenda Putri keraton Solo dan seekor ular raksasa.

Mulanya sang putri keraton Solo melarikan diri dari perjodohannya dengan lelaki bangsawan asal Cina. Sang Putri pun pergi seorang diri dengan naik perahu menyisiri Sungai Bengawan Solo menuju jalur pantai utara menuju ke arah timur.

Hingga akhirnya Sang Putri terdampar di Bengawan Legowo atau (kini; Telaga Pacar), yang terletak di Dusun Kramat, Pulau Mengare. Sang Raja (Ayahanda Sang Putri) pun geram mengetahui kaburnya putrinya. Dan ia mengutus seekor ular raksasa milik keraton untuk mencari putrinya dengan menyisiri jalur pantai utara. Alhasil, Sang Putri pun ditemukan oleh ular tersebut. Berkat bujukan ular jika perjodohan dibatalkan, akhirnya Putri mau kembali ke keraton.

Sayangnya, niat buruk ular tersebut diketahui seorang waliyullah kota Gresik, yakni Sunan Giri (Raden Paku). Yang kala itu menguasai penyebaran ajaran islam di kota pudak.

Sunan Giri akhirnya mengutus Sunan Karebet (Jaka Tingkir) untuk mengutuk ular tersebut. Sempat terjadi pertarungan sengit, namun ular kalah hingga akhirnya mati dengan kondisi mengelilingi Pulau Mengare (kini,red).

Menurut cerita dari salah seorang sesepuh Dusun Kramat, Mohammad Ahnan (54) mengatakan jika tubuh mayat ular itu akhirnya terbagi menjadi tiga bagian. Yaitu bagian kepala adalah Dusun Kramat, bagian perut adalah Dusun Tajung Widoro, dan bagian ekor adalah Dusun Mentani (Watu Agung).

“Dan ketiga tempat itulah yang akhirnya menjadi bagian dari Pulau Mengare,” kata bapak 3 anak itu sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.

Saat ditanya siapakah tokoh pertama kali yang babat alas Pulau Mengare. Ahnan mengatakan tokoh itu bernama Dimas Sulthan Kertabumi, salah seorang utusan kerajaan Panjaluh Tasikmalaya Jawa Barat. Yang makamnya dapat dijumpai pedukuhan Ujung Sawo Dusun Kramat.

Mata Pencaharian Penduduk

Suasana pagi hari hingga malam hari di Pulau Mengare tampak begitu sepi. Aktifitas keseharian warga setempat bagi yang laki-laki kebanyakan melaut (nelayan) di Selat Madura. Terkadang ada juga yang bekerja sebagai buruh tambak yang letaknya hampir mengitari kepulauan tersebut. Sedangkan bagi yang perempuan lebih banyak tinggal di rumah sebagai ibu rumah tangga.

Dari hasil tangkapan nelayan setempat kebanyakan mereka mencari rajungan (sejenis kepiting), cumi-cumi dan udang. Setelah itu mereka jual kepada tengkulak.

Khusus untuk rajuangan dijual nelayan pada sebuah Home Industry (rumah usaha) bernama ‘mini plant’, milikKholib Mawardi. Usaha tersebut berupa pengelolahan daging rajungan untuk di ekspor ke luar negeri, seperti Amerika, inggris dan Jepang.

“Ya, rajungan-rajungan ini kami beli dari nelayan dengan harga berbeda tergantung isinya dalam setiap kilogramnya,” tutur Miftahudin (36), penanggung jawab mini plant (22/03).

Lebih lanjut Miftahudin mengatakan rajungan dibeli per kilogramnya dengan isi 12 ekor untuk ukuran paling kecil dengan harga Rp. 22 ribu. “Dan harga itu untuk nelayan, beda lagi dari tengkulak biasanya saya beli dengan harga Rp. 25 ribu,” imbuhnya.

Rajungan-rajungan itu, sebelum di masukan ke dalam toples. Lebih dulu dilakukan proses perebusan selama 30 menit dengan suhu air mendidih dan tinggi air 4-5 cm. Setelah itu rajungan matang dimasukkan ke dalam ruang pendingin.

“Setelah direbus berat rajungan berkurang sekitar 7,5 kilogramnya,” ungkap Dwi Purnomo (26), salah seorang pegawai mini plant, yang kini jumlah pekerjanya mencapai 82 orang.

Kemudian, rajungan matang dimasukkan ke dalam ruang proses pemilahan daging. Di sini daging-dagingnya akan dipilah sesuai jenisnya menurut bentuk tubuh rajungan. Hingga usai dipilah langkah selanjutnya dimasukkan ke dalam toples untuk dikirim ke perusahaan pengalengan daging ikan laut.

“Biasanya kami mengirimnya pada Phillips (Pasuruan) dan Bumi Menara Industri (BMI) di Surabaya,” ujar Miftahudin.

Lokasi Pulau Mengare

Pulau Mengare merupakan bagian dari Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik. Menuju ke lokasinya pun cukup mudah. Jalan paving selebar 2,8 meter dengan kiri dan kanannya lahan tambak di tambah semak belukar adalah satu-satunya jalan yang menghubungkan Desa Sembayat (Bungah) dengan Pulau Mengare.

Menuju ke lokasi Pulau ini dapat di tempuh lewat jalan tol Surabaya-Manyar. Setelah turun Manyar menuju Sembayat. Sesampai di Sembayat sebelum melintas di jembatan layang yang melintang di atas sungai Bengawan Solo, dijumpai sebuah jalan kecil dan ada beberapa orang yang menjaga portal (palang pintu masuk menuju Pulau Mengare).

Jarak portal Sembayat ke Pulau Mengare sepanjang 12 km. Setelah itu kita akan menemukan sebuah tugu yang bertuliskan ‘Selamat Datang Pulau Mengare Desa Watu Agung’.

“Berbeda dengan tiga tahun yang lalu jalan tersebut penuh lubang dan batu-batu besar berserakan” ujar mbok Sih, salah seorang pemiliki warung kopi (warkop) di Pulau Mengare.Dalam percakapan keseharian penduduk setempat menggunakan bahasa Madura. Hal ini kemungkinan karena letak Pulau Mengare sangat berdekatan dengan Sumenep Madura. Bahkan dari tepi laut Pulau Mengare kota Sapoloh Sumenep tampak jelas.

- M. Ridlo'i/Guntur IP